Program bank sampah yang mulai digagas di sejumlah kota besar Indonesia sejak awal tahun 2010-an kini berkembang menjadi salah satu tulang punggung gerakan ekonomi sirkular di tingkat rukun warga (RW). Warga yang menyetorkan sampah anorganik terpilah seperti botol plastik, kertas, dan logam ke bank sampah akan menerima tabungan dalam bentuk saldo yang dapat dicairkan sewaktu-waktu, sebuah mekanisme yang terinspirasi dari gerakan 3R (reduce, reuse, recycle) yang mulai populer di Indonesia sejak akhir dekade 1990-an.
Data dari sebuah bank sampah di kawasan padat penduduk mencatat, dalam sebulan terkumpul rata-rata 3.600 kilogram sampah plastik yang disetorkan oleh 450 nasabah aktif. Harga beli sampah plastik oleh pengepul rata-rata Rp2.500,00 per kilogram, sementara biaya operasional bank sampah (transportasi dan tenaga pemilah) sekitar Rp1.800.000,00 per bulan.
Keberadaan bank sampah ini juga mengubah pola interaksi sosial warga. Kegiatan menyetor sampah setiap akhir pekan menjadi ajang berkumpul warga antarblok yang sebelumnya jarang berinteraksi, sekaligus menumbuhkan kesadaran kolektif terhadap pengelolaan lingkungan permukiman padat di kawasan urban.
Namun demikian, pengelola bank sampah mengeluhkan minimnya lahan penyimpanan sementara di tengah kepadatan permukiman perkotaan, sehingga sampah yang terkumpul harus segera didistribusikan ke pengepul besar sebelum menumpuk dan mencemari lingkungan sekitar.
25. Jika bank sampah menjual seluruh 3.600 kilogram sampah plastik dengan harga Rp2.500,00 per kilogram dan menanggung biaya operasional Rp1.800.000,00 per bulan, maka keuntungan bersih bank sampah tersebut per bulan adalah ………
Tinggalkan Balasan