Mini TO SNBT 2027 [Soal LBI 1 Sastra]

0

Mini TO SNBT 2027 [Soal LBI 1 Sastra]

Anda punya waktu 40 menit untuk mengerjakan 40 soal. Kerjakan dengan jujur sebab ini bahan evaluasi kalian. Semakin banyak latihan dan semakin banyak benar semakin bagus. Anda punya kesempatan tiga kali pengerjaan.Kerjakan di laptop atau tablet agar lebih optimal secara tampilan. Kalian yang mau gabung bimbel SNBT 2027 boleh banget! Kalian bisa klik di sini

The number of attempts remaining is 6

Isi dulu data diri yaah

1 / 38

40. (EBTANAS-00-54)
Adegan Ponirah dan Marni dengan menggendong bakul dan mengenakan topi caping.
Marni : Pon … Ponirah!
Ponirah : Ada apa?
Marni : Aku melihat sepintas bayangan orang di sana!
Ponirah : Tenang saja!
Marni : Tenang … tenang? Tenang bagaimana? Kalau musuh?
Ponirah : Musuh? Marni, kita ini jualan buah dan tidak punya musuh. Kita harus yakin, yang berani bergerak di malam hari hanya TNI. Ayo jalan!
Marni : Tapi bulu kudukku berdiri.
Ponirah : Maka jangan di sini, ayo terus jalan!
Keduanya berjalan dengan sesekali menoleh ke belakang. Topi caping di tangan kiri. Tangan kanan di balik seakan memegang senjata.
Situasi yang dilukiskan dalam penggalan drama itu adalah ….

2 / 38

39. (EBTANAS-00-37)
Penulis dalam buku Menciptakan Keseimbangan ini mengatakan bahwa anak-anak dan generasi muda pada zaman modern berhadapan dengan kekacauan nilai dalam masyarakat. Nilai kerap kali disamakan dengan harga atau keuntungan. Selain itu, nilai sosial pribadi seseorang sering diukur dengan kemampuan membeli dan mendapatkan kementerengan, (halaman 6).
Masalah yang dibahas dalam resensi di atas adalah ….

3 / 38

38. (EBTANAS-00-33)
Prabawati beberapa hari tinggal bersedih karena kepergian suaminya untuk mencari nafkah. Tetapi, sahabat-sahabatnya membujuknya dengan menyuruhnya mencari seorang kekasih. Prabawati menetapkan untuk mencoba berbuat demikian lalu berhiaslah ia. Burung bayan betina mencoba mencegah perbuatan itu dengan memperlihatkan betapa salahnya kelakuan demikian dan dengan menempelaknnya. Tetapi, hasilnya ia hampir dipatahkan lehernya oleh Prabawati. Untunglah ia dapat lari menghindarkannya.
Pesan moral yang tersirat dari penggalan di atas adalah ….

4 / 38

37. (EBTANAS-00-29)
Teja dan cerawat masih gemilang
Memuramkan bintang mulia raya
Menjadi pudar padam cahaya,
Timbul tenggelam berulang-ulang
Berdasarkan jumlah baris tiap bait, puisi di atas berbentuk ….

5 / 38

36. (EBTANAS-00-26)
“Saya yakin Anda akan puas dengannya,” katanya, “Dia telah kami pilih sesuai dengan persyaratan komputer. Tidak ada yang melebihinya dari seratus sepuluh juta wanita yang memenuhi syarat di Amerika Serikat sebagai istri Anda. Kami memilih berdasarkan suku, agama, etnik, dan latar belakang regional…”
Masalah yang kebetulan memiliki kesamaan dengan sebagian budaya Indonesia yang tersirat dalam penggalan cerpen tersebut adalah ….

6 / 38

35. (EBTANAS-00-25)
TERATAI
Dalam kebun di tanah airku
Tumbuh sekuntum bunga teratai
Tersembunyi kembang indah permai
Tiada terlihat orang yang lalu
Akarnya tumbuh di hati dunia
Daun berseri laksmi mengarang
Biarpun dia diabaikan orang
Seroja kembang gemilang mulia
……
Masalah sosial budaya yang mendasari tema puisi di atas adalah ….

7 / 38

34. (EBTANAS-00-23)
Marianne Katoppo juga pernah menulis cerita-cerita dongeng dalam bahasa Belanda, waktu ia masih kecil. Tahun 60-an dia memulai menulis cerpen-cerpen untuk surat kabar dan majalah. Pada tahun 1975 novelnya yang berjudul Raumanen mendapat hadiah harapan pada sayembara penulisan novel….
Unsur yang diungkapkan dalam penggalan resensi di atas adalah ….

8 / 38

33. (EBTANAS-00-18)
Jam satu malam: cuaca gulita dan murung, hujan turun selembut embun namun cukup membasahkan. Hati-hati Kasim memimpin anak buahnya menuruni tebing yang curam dan licin. Ia sendiri berjalan sangat hati-hati, menggendong bayi pada punggungnya, sebelah kiri.
— Sungai, Nugroho Notosusanto
Penggalan cerpen di atas menunjukkan unsur intrinsik ….

9 / 38

32. (EBTANAS-00-10)
Indra menjadi duda bukan karena kematian istrinya. Melainkan karena perceraian yang didahului dengan pertengkaran seru. Begitu serunya sehingga keluarga Indra dan Nur ikut menengahi pertengkaran itu. Hasilnya berakhir dengan perceraian. Hesty tahu benar dalam perceraian itu Indra yang bersalah. Karena mengkhianati perkawinannya.
— Cerpen Hesty, oleh Y.S. Marjo
Watak tokoh Indra dalam penggalan cerpen di atas adalah ….

10 / 38

31. (EBTANAS-00-08)
Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa
Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati
— Amir Hamzah
Tema puisi Amir Hamzah di atas adalah ….

11 / 38

30. (EBTANAS-00-06)
ORANG ASING (Drama satu babak)
Interior sebuah rumah kampung di daerah Bumiayu berupa sebuah meja di tengah. Di sebelah kiri meja menghadap ke samping, duduk seorang asing sedang menghabiskan makannya.
Orang asing: (mendorong kursinya ke belakang dan menghabiskan minumnya). Enak, enak sekali. Sungguh aku rasa, baiklah aku mengaso sekarang. Aku capek sekali habis jalan kaki lewat hutan-hutan itu. Alhamdulillah, aku mujur sekali menemukan rumah ini.
Tahapan alur pada penggalan drama di atas menunjukkan ….

12 / 38

29. (EBTANAS-00-05)
“Memesan tulisan di papan itu mahal!” akhirnya Salijan teringat lagi kepraktisannya dalam keuangan. Harga papan, ongkos pengecatan, tulisan – ah, sepuluh ribu sendiri habis ke situ! Tentulah suaminya tidak akan setuju. Jumlah itu besar, lebih baik ditambahkan ke tabungan guna mengurus sertifikat baru tanah yang masih mereka miliki. Demikian sukar, berbelit, dan mahal untuk mendapatkan surat-surat tersebut, kata Samijo. Dan katanya lagi semakin lama akan menjadi semakin mahal, pegawai di kantor-kantor pemerintah akan minta jasa lebih besar lagi. Jadi, pengeluaran yang bukan untuk makan, pakaian lebaran, dan kesehatan, harus dihindari….
— Terampil Berbahasa Indonesia 1
Amanat penggalan cerpen di atas adalah ….

13 / 38

28. (EBTANAS-99-59)
“Nama Anda siapa tadi?” tanya Bidan.
“Bu Sally.”
“Nama kepanjangannya!” ulang Bidan.
Perempuan itu sekali lagi menghindari pandang Bu Bidan, menjawab lirih “Saliyem.”
“Oooo Allaaah!” hanya itu diucapkan Bu Bidan. Dicarinya lagi kartunya. “Namanya Saliyem! Siapa nama suaminya?”
Dan sebelum pasien itu memberi jawaban, pembantu perawat menambahkan “Nama lengkap. Nama aslinya.”
Bu Bidan merasa perlu menjelaskan lebih terang. “Nama desa, nama yang dibawa dari desa!”
“Samijo,” suara pasien itu tetap perlahan.
“Sekarang siapa namanya? Nama kota?” Bu Bidan bertanya.
Tanpa mengenali nada ejekan atau sindiran dari Bu Bidan, perempuan yang terbaring di tempat pemeriksaan menyahut “Pak Sammi.”
“Mengapa mulutnya begitu rapat? Apa Ibu tahu caranya menulis? Dengan huruf em dua atau bagaimana?” Bidan itu mendesak lagi.
“Saya tidak bisa menulis, Bu. Tapi katanya memang pakai huruf em dua.”
Bidan dan pembantu perawat saling memandang, masing-masing mengulum senyum.
“Kalau begitu, Sally itu el-nya juga dua?” tanya perawat. — “Ya, Bu” katanya begitu.
Sifat tokoh Bu Sally yang tergambar dalam penggalan cerpen di atas adalah ….

14 / 38

27. (EBTANAS-99-49)
“Aku membaca tulisan yang berjudul “Psychology”.
Ia tampak malu, menghindari pertanyaan, tanpa kata terucap, tipe seorang Ibu yang baik.
“Aku suka kau tidak merokok atau tidak minum minuman keras.”
“Itu tidak bisa dikatakan jelek.”
“Yah, mungkin aku lupa menghentikannya” Aku berharap ia tidak memikirkan hal itu.
— Jodoh yang Sempurna (terjemahan)
Nilai budaya yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia dalam penggalan cerpen terjemahan di atas adalah ….

15 / 38

26. (EBTANAS-99-48)
Kalimat yang mengungkapkan penggalan resensi buku nonfiksi adalah ….

16 / 38

25. (EBTANAS-99-41)
Sulit sekali menemukan kekurangan pada buku ini. Semua unsur yang seharusnya dimiliki karya fiksi terpenuhi dalam buku ini. Bagi yang tidak senang membaca karya sastra memang buku ini tidak begitu menarik sebab novel ini serius dan tidak cukup menghibur.
Masalah yang dinilai dalam penggalan resensi di atas adalah ….

17 / 38

24. (EBTANAS-99-40)
Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, siapakah mereka
Mereka ialah ibu-ibu yang perkasa
akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
mereka; cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa.
— Hartoyo Andangjaya
Pokok masalah dalam penggalan puisi di atas adalah ….

18 / 38

23. (EBTANAS-99-29)
Rapiah dan mertuanya tidak pernah keluar rumah. Sekalian orang yang datang bertandang sudah mengetahui bahwa mereka tak usah lagi mengetuk pintu atau berseru-seru di beranda muka, melainkan bolehlah terus ke belakang saja buat menemui orang rumah.
Seorang pun di antara segala sahabat Hanafi tak datang ke rumahnya, karena selama ini yang dicari oleh mereka hanyalah Hanafi saja, sedang ahli rumahnya yang lain hanyalah berguna buat menyediakan hidangan belaka.
Kedua perempuan itu, mertua dan menantu, sedang asyik bekerja di dapur. Syafei tidur nyenyak dalam buaian di beranda belakang, diayun-ayun oleh si Buyung.
— Salah Asuhan
Unsur budaya Minangkabau yang tersirat dalam penggalan novel di atas adalah ….

19 / 38

22. (EBTANAS-99-24)
Percakapan itu lancar, mengiringi gerak dan sentuhan bidan yang pasti dan ahli memeriksa payudara pasien, pernafasan, mata, tenggorokan. Kemudian mencuci tangan, mengenakan pelindung dari karet.
“Anaknya berapa, Bu?” — “Lima.”
“Wah, sudah banyak! Mengikuti KB atau tidak?”
Pasien itu tidak segera menyahut. Lalu berkata sambil membuang pandang. “Suami saya tidak mau.”
“Euh!” bidan mengeluarkan bunyi sesalan. “Ya, dia sih enak saja! Ibu yang capek!”
Ditanya umur, rumah, nama anak-anaknya. Tiba-tiba bidan itu memandangi wajah pasiennya lagi, seakan-akan mencari satu pengenalan. Ya, benar! Pasien ini sudah pernah diperiksanya. Entah berapa kali. Barangkali setiap kali beranak!
Permasalahan dalam penggalan cerita di atas adalah ….

20 / 38

21. (EBTANAS-99-08)
Gunung tinggi diliputi awan
Berteduh langit malam dan siang
Terdengar kampung memanggil taulan
Rasakan hancur tulang belulang
Maksud penggalan puisi di atas adalah menggambarkan ….

21 / 38

20. (EBTANAS-99-04)
“Suria! Hal yang sekecil itu sudah menerbitkan marahnya, seolah anaknya telah menyempitkan marahnya! Akan tetapi hal lain-lain, yang patut dan mesti diperhatikan, hampir tiada pernah dipedulikannya. Rumah tangga! Begini sulitnya urusan rumah tangga, begini susahnya hidup sekarang ini. Suria berlaku bagai acuh tak acuh juga. Yang dipentingkannya hanyalah kesenangan dirinya. Burungnya lebih perlu kepadanya daripada anak-anaknya. Hampir tak pernah ia bertanya, bagaimana sekolah Aleh dan Enah …”
— Dari Katak Hendak Jadi Lembu
Suria hampir tidak pernah memperhatikan anak-anaknya yaitu Aleh dan Enah.
Hal yang menyebabkan perbuatan tersebut adalah ….

22 / 38

19. (EBTANAS-98-46)
“Sukamti berdiri dan dua ketukan yang kuat memecahkan bunyi tepukan itu sehingga dalam sekejap gedung yang gemuruh itu mati. Dalam sepi yang sesepi-sepinya itulah kedengaran suara Tuti membelah.
“Saudara-saudaraku kaum perempuan, rapat yang terhormat! Berbicara tentang sikap perempuan baru, sebagian besar ialah berbicara tentang cita-cita bagaimanakah harusnya kedudukan perempuan dalam masyarakat yang akan datang. Jangan sekali-kali disangka, bahwa berunding tentang cita-cita yang demikian semata-mata berunding tentang angan-angan dan pengelamunan yang tiada mempunyai guna yang praktis sedikit juapun. Saudara-saudara, dalam tiap-tiap usaha hanyalah mungkin kita mendapat hasil yang baik, apabila terang kepada kita, apa yang hendak kita kejar dan kita capai. Atau dengan perkataan lain, dalam segala hal hendaknya kita mempunyai gambaran yang senyata-nyatanya tentang apa yang kita cita-citakan. Demikian menetapkan bagaimana harusnya sikap perempuan baru dalam masyarakat yang akan datang, berarti juga menetapkan pedoman yang harus diturut waktu mendidik kanak-kanak perempuan waktu mendatang.”
— Dari Layar Terkembang
Petikan novel di atas mengandung amanat ….

23 / 38

18. (EBTANAS-98-43)
Sri sedang berpindah tempat mengikuti suaminya yang diplomat itu. Sri mulai mengerti kelakuan suaminya yang lekas marah, keras, lagi egois. Pertengkaran pun sering terjadi. Sri yang semula seorang wanita yang lembut dan penurut akhirnya menjadi wanita yang keras dan pembantah. Sri dan suaminya hendak berlibur ke Perancis. Charles memutuskan bahwa mereka akan berangkat dari Jepang. Setelah sampai di Saigon mereka berpisah. Dari sana Charles melepas istri dan anaknya dengan sebuah kapal ke Marseille. Charles hendak singgah dahulu ke India.
— Pada Sebuah Kapal, oleh: Nh. Dini
Watak para pelaku yang tepat sesuai dengan penggalan di atas adalah ….

24 / 38

17. (EBTANAS-98-35)
Perempuan : Sudah kuduga, Bung tentu pulang dengan selamat seperti kemarin pagi. Kalau Bung keluar, aku selalu cemas-cemas harap. Siapa tahu, Bung ditimpa malang. Maklumlah dalam keadaan begini ada peluru yang sering jatuh salah alamat.
Penyair : Itulah yang menjadikan aku kagum.
Perempuan : Bahwa Bung selalu selamat selama ini?
Penyair : Bukan, bukan itu. Sebab terus terang saja, aku sendiri sebenarnya tidak begitu peduli tentang keselamatanku.
Perempuan : Aneh.
Penyair : Kedengarannya memang aneh. Akan tetapi, begitulah.
Perempuan : Lalu apa yang Bung kagumi?
Penyair : Pernyataan Saudari tadi.
Perempuan : Aku tidak mengerti. Coba jelaskan.
Penyair : Maksudku, pernyataan Saudari itu… Hikmahnya terasa begitu puitis. Maksudku, pernyataanmu tadi mengandung unsur-unsur rasa kasih sayang yang begitu murni.
Perempuan : Oo, begitu?
Penyair : Ya, begitu. Dan baru pertama kali ini aku merasa bahwa ada seseorang yang menaruh perhatian terhadap keselamatan diriku. Dan yang memperhatikan adalah seorang wanita.
Gambaran yang diperoleh dari penggalan drama di atas adalah ….

25 / 38

16. (EBTANAS-98-15)
Di tempat inilah terjadi peristiwa yang menyesatkan. Namun Monang bertanggung jawab dan akan mengawininya. Dan kenyataannya lain. Ibu Monang telah menjodohkannya dengan gadis Batak pilihan ibunya. Monang sendiri tidak kuasa menolaknya. Dia kawin dengan gadis pilihan ibunya. Sementara itu janin yang dikandung Manen mengalami kelainan, bayi itu akan lahir cacat.
— Raumanen, karya Mariane Katoppo
Unsur budaya yang terdapat dalam penggalan novel di atas adalah ….

26 / 38

15. (EBTANAS-98-08)
Niatkanlah menegakkan kalimat Allah
Di atas bumi kita ini
Dengan menegakkan keadilan
Dan kebenaran
Tanpa dendam dan kebencian
Kemudian lafazkan kesaksian pada Tuhan
Serta Rasul kita yang tercinta
— Taufik Ismail
Amanat yang terkandung dalam penggalan puisi di atas adalah ….

27 / 38

14. (EBTANAS-97-44)
NAGA MERAH
Beribu tahun yang lalu, hidup seekor naga raksasa berwarna merah. Dia sudah bosan hidup di bumi. Dikumpulkannya binatang-binatang lain untuk diajak hidup di balik awan. Ada sebuah tempat yang aman dan indah. Semua binatang yang ikut disuruhnya naik punggungnya. Ternyata yang ikut cukup banyak dan baru terasa bahwa tak mungkin mengangkat seluruh binatang yang ikut.
Naga Merah menggeliat, mendengus, menggeram, dan akhirnya terbang. Sampai setinggi pohon, dia baru mengetahui bebannya terlalu berat. Dia sendiri akan terjerembab jika yang menunggangi punggungnya tidak dijatuhkan.
Dari penggalan cerita tersebut dapat disimpulkan sifat tokoh Naga Merah adalah ….

28 / 38

13. (EBTANAS-97-40)
Surat-surat itu berbagai-bagailah isinya. Masing-masing menyatakan “cinta berahinya yang tidak terhingga” dengan rupa-rupa caranya. Ada yang mengancam hendak menembak diri di bawah jendela tempat Corrie di asrama jika cintanya tidak terbalas; ada yang hendak menghanyutkan diri di sungai Ciliwung, dan ada pula yang hendak membawa untungnya ke benua Amerika.
Sedikit pun Corrie tidak mengindahkan “ratap dan tangis” dari segala pihak itu, segala ancaman hendak meninggalkan “dunia air mata” ini, dibacanya dengan gelak terbahak-bahak seorang dirinya.
— Salah Asuhan, A. Muis
Gaya pengarang dalam penggalan roman di atas adalah gaya ….

29 / 38

12. (EBTANAS-97-30)
Novel Marianne Katoppo yang berjudul Raumanen dapat dikategorikan sebagai bacaan populer. Plot ceritanya sederhana saja. Manen bertemu Monang. Mereka saling mencinta. Terjadi kehamilan atas diri Manen akibat percintaan itu. Klimaksnya terjadi waktu Monang ternyata tak berani menikahi Manen lantaran orang tuanya menjodohkannya dengan gadis lain. Penyelesaiannya ialah Manen bunuh diri.
Unsur intrinsik yang terdapat pada penggalan resensi di atas adalah ….

30 / 38

11. (EBTANAS-97-29)
DIPONEGORO
Di masa pembangunan ini
Tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar lawan banyaknya seratus kali
Pedang di kanan keris di kiri
Berselempang semangat yang tidak bisa mati
Maju
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu
Sekali berarti
Sudah itu mati
Maju
Bagimu negeri
Menyediakan api
Punah di atas menghamba
Binasa di atas dilindas
Sungguhpun dalam ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang terjang.
Hubungan antara tema puisi di atas dengan masalah kehidupan saat ini adalah ….

31 / 38

10. (EBTANAS-97-16)
KARANGAN BUNGA
Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu
“Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
Siang tadi”
— Taufiq Ismail
Masalah sosial yang terdapat dalam puisi ini ….

32 / 38

9. (EBTANAS-97-10)
Tuti duduk membaca buku di atas kursi kayu yang lebar, di bawah pohon mangga, di hadapan rumah sebelah Cideng Weg. Tiap-tiap petang, apabila ia sudah menyelesaikan pekerjaan rumah dan sudah pula mandi dan berdandan, biasanya ia duduk di tempat itu menanti hari senja. Sesungguhnya, nikmat duduk berangin-angin di hadapan rumah memandang Cideng Weg yang sepi itu. Ke hadapan, lantang ia melihat ke seberang kali, kepada rumah-rumah batu yang indah. Di langit jauh di belakang rumah bersusun, awan senja berbagai-bagai warnanya, mengantarkan matahari yang akan terbenam.
Latar penggalan novel Layar Terkembang di atas adalah ….

33 / 38

8. (EBTANAS-97-09)
“Rabiya, aku minta kau mau menerima semua akibat keputusanku ini dengan tawakal. Jangan menyumpah-nyumpah dan jangan menggerutu atau kecewa. Bila nanti dengan kematianku kau dan anak-anak terpaksa harus kembali dengan keadaan dua puluh lima tahun yang lalu, kau harus menerima dan percaya bahwa itu kehendak Yang Mahakuasa. Ingat betul-betul bahwa dulu kita tidak pernah punya apa-apa. Bahkan, tidak pernah berpikir bahwa ada kemungkinan kita akan punya sesuatu yang berharga. Rabiya, telah kuwariskan seluruh harta kekayaanku kepada Darulaitam hanya dengan satu alasan: perintah Tuhan. Titik. Kulakukan itu dengan sadar. Maka kau pun harus menyetujuinya dengan sadar. Habisnya milik kita nanti bukan berarti bahwa kita tidak punya apa-apa lagi. Percayalah bahwa semakin melarat kita, semakin kayalah kita.”
Makna peribahasa semakin melarat kita, semakin kayalah kita dalam penggalan cerpen di atas adalah ….

34 / 38

7. (EBTANAS-97-04)
Sejak berpisah dengan burung perkutut kesayangannya, Mbah Parto sakit. Bukan sakit encok seperti biasanya, namun sakitnya lebih merupakan sakit rohani ketimbang sakit jasmani. Tiga bulan yang lalu, burung perkutut yang sudah “kung” itu dibeli Pak Umar. Sebetulnya, Mbah Parto tak hendak melepaskan burung kesayangannya. Namun, karena Pak Umar mendesak dan meninggikan penawarannya sampai delapan ratus ribu rupiah, akhirnya, Mbah Parto merelakan perkutut itu dibeli. Ia mengira dengan uang sebanyak itu dia dapat membeli perkutut lagi dan sisanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun, yang terjadi di luar perkiraannya. Semenjak berpisah dengan burung perkututnya, Mbah Parto justru menderita. Tubuhnya semakin kurus dan pada akhirnya jasmaninya pun tak kuat, ia terbaring sakit.
— Cerpen ‘Mbah Parto’
Amanat yang terkandung dalam penggalan cerpen di atas adalah ….

35 / 38

6. (EBTANAS-96-45)
Perhatikan pantun dan gurindam berikut!
Pantun:
Berburu ke padang datar
Mendapat rusa belang kaki
Berguru kepalang ajar
Bagai bunga kembang tak jadi
Gurindam:
Kurang pikir kurang siasat
Tentu dirimu kelak tersesat
Perbedaan antara pantun dan gurindam adalah ….

36 / 38

5. (EBTANAS-96-44)
Perhatikan penggalan resensi berikut!
Nikmat ceritanya itu sendiri kita dapatkan oleh gaya berceritanya halus, lembut, dan terpelajar. Tanpa banyak membuang tutur Marianne Katoppo melukiskan adegan demi adegan ceritanya. Ciri popnya yang menonjol ialah sering kalinya ia menyisipkan lukisan-lukisan kehidupan anak-anak muda yang penuh dengan gurauan-gurauan dan humor yang “kampus” atau terpelajar kalau tidak boleh dikatakan sophisticated. Desakan demikian rupanya terlalu banyak sehingga kadang merusak suasana cerita. Misalnya pada adegan Raumanen yang sedang pada puncak kebingungannya akibat menyaksikan kekasihnya Monang mengadakan pesta di rumahnya tanpa mengundang dirinya, dan keesokan harinya dalam suasana batin yang begitu kalut, Raumanen ini masih sempat bercanda dalam dialognya dengan Monang. Yang demikian ini juga sering kali menghinggapi novelis wanita lainnya; Marga T. Yang terakhir ini sering terlena memperpanjang cerita hanya untuk melukiskan gurauan anak muda di rumah sakit.
Pada penggalan resensi di atas ada bagian isi resensi yang tidak tepat, yaitu bagian yang ….

37 / 38

3. (EBTANAS-96-41)
JALAN SEGARA
Di sinilah penembakan
Kepengecutan
Dilakukan
Ketika pawai bergerak
Dalam panas matahari
Dan pelor pembayar pajak
Negeri ini
Ditembakkan ke punggung
Anak-anak sendiri
— Taufiq Ismail
Isi puisi di atas menggambarkan ….

38 / 38

2. (EBTANAS-96-40)
Tuti dan Maria dua kakak beradik. Keduanya putri R. Wiraatmadja, mantan Wedana di daerah Banten. Meskipun Tuti dan Maria bersaudara, sifat keduanya sangat berbeda. Tuti seorang pendiam dan selalu berhati-hati dalam menuturkan kata. Ia lebih banyak menggunakan akal dan pikiran daripada perasaan. Sebaliknya Maria seorang gadis lincah dan periang, tetapi juga mudah murung. Gadis ini lebih banyak menurutkan perasaannya.
Unsur intrinsik yang menonjol pada penggalan novel di atas adalah ….

Your score is

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *