Mini TO LBI [8] SNBT 2026

1

Mini TO LBI [8] SNBT 2026

Anda punya waktu 19 menit untuk mengerjakan 13 soal. Kerjakan dengan jujur sebab ini bahan evaluasi kalian. Semakin banyak latihan dan semakin banyak benar semakin bagus. Anda punya kesempatan tiga kali pengerjaan.Kerjakan di laptop atau tablet agar lebih optimal secara tampilan. Kalian yang mau gabung bimbel SNBT 2026 boleh banget! Kalian bisa klik di sini

The number of attempts remaining is 6

Isi dulu data diri yaah

1 / 13

TEKS 4
Dikenal luas sebagai salah seorang polymath (berpengetahuan di berbagai bidang) terbesar dalam sejarah manusia, Leonardo da Vinci adalah penemu, seniman, musisi, arsitek, insinyur, ahli anatomi, ahli botani, ahli geologi, sejarawan, dan kartografer. Meskipun karya artistiknya tidak banyak, dampak Leonardo besar. Karyakaryanya mencerminkan pengetahuannya yang mendalam tentang tubuh, penelitiannya yang luas tentang cahaya dan wajah manusia, dan teknik sfumato (bahasa Italia untuk “berasap”), yang memungkinkan gambar menjadi sangat hidup.

Leonardo lahir dari hubungan di luar nikah pada 15 April 1452. Ayahnya, Piero, adalah seorang notaris kaya, dan ibunya, Caterina, adalah seorang gadis petani lokal. Sebagai akibat dari menjadi “anak haram”, Leonardo menerima pendidikan formal yang agak terbatas yang utamanya meliputi aritmatika bisnis. Dia tidak pernah masuk universitas dan kadang-kadang menyebut dirinya sebagai “orang yang tidak berpendidikan”. Pada zamannya sendiri, ia dikenal sebagai orang yang sangat menawan.

Leonardo menciptakan beberapa karya seni paling indah di dunia, beberapa di antaranya adalah lukisan “Perjamuan Terakhir” dan “Mona Lisa.” Perjamuan Terakhir alias The Last Supper jadi salah satu karya seni Leonardo da Vinci yang ikonik. Lukisan tersebut dibuat sejak 1495—1498. Lukisan itu menggambarkan sosok Yesus bersama 12 orang muridnya. Last Supper dimaknai pada perkataan Yesus, bahwa salah satu di antara muridnya akan menjadi pengkhianat, seperti termuat dalam Matius 26:21—25. Sosok yang dimaksud itu merujuk pada Yudas Iskariot dan ia dimunculkan dalam lukisan dengan wajah gelisah. Sementara, Yesus digambarkan dengan ketenangan. Hingga kini, Last Supper dipajang di Santa Maria delle Grazie, Milan, Italia.

Mona Lisa dianggap sebagai lukisan karya Leonardo da Vinci paling ternama di dunia hingga saat ini. Lukisan tersebut dibuat di Florence, Italia sejak 1503 hingga 1519, sebelum sang maestro mangkat. Ada banyak hal yang membuat Mona Lisa menjadi istimewa. Misalnya teknik yang digunakan Leonardo, salah satunya melalui teknik stumafo. Kejelian Leonardo mampu memperlihatkan tengkorak di bawah kulit hingga kerudung tipis yang dilukis dengan halus. Senyuman dan tatapan sosok perempuan Mona Lisa jadi bahasan lain. Selain itu, muncul teka-teki tentang siapa sosok Mona Lisa sebenarnya. Ada versi yang mengatakan bahwa Mona Lisa sebenarnya adalah Lisa Gherardini, istri pedagang sutra Italia bernama Francesco del Giocondo. Diduga, Giocondo merupakan pemesan awal lukisan tersebut. Lukisan ini dipajang di Museum Louvre, Paris, Prancis. (Diadaptasi dari https://theconversation.com/8-hal-yang-mungkin-anda-tak-ketahui-tentang-leonardo-da-vinci-500-tahun-setelah-kematiannya-117439)
16. Salah satu hal yang membuat Mona Lisa istimewa menurut
bacaan adalah….

2 / 13

TEKS 4
Dikenal luas sebagai salah seorang polymath (berpengetahuan di berbagai bidang) terbesar dalam sejarah manusia, Leonardo da Vinci adalah penemu, seniman, musisi, arsitek, insinyur, ahli anatomi, ahli botani, ahli geologi, sejarawan, dan kartografer. Meskipun karya artistiknya tidak banyak, dampak Leonardo besar. Karyakaryanya mencerminkan pengetahuannya yang mendalam tentang tubuh, penelitiannya yang luas tentang cahaya dan wajah manusia, dan teknik sfumato (bahasa Italia untuk “berasap”), yang memungkinkan gambar menjadi sangat hidup.

Leonardo lahir dari hubungan di luar nikah pada 15 April 1452. Ayahnya, Piero, adalah seorang notaris kaya, dan ibunya, Caterina, adalah seorang gadis petani lokal. Sebagai akibat dari menjadi “anak haram”, Leonardo menerima pendidikan formal yang agak terbatas yang utamanya meliputi aritmatika bisnis. Dia tidak pernah masuk universitas dan kadang-kadang menyebut dirinya sebagai “orang yang tidak berpendidikan”. Pada zamannya sendiri, ia dikenal sebagai orang yang sangat menawan.

Leonardo menciptakan beberapa karya seni paling indah di dunia, beberapa di antaranya adalah lukisan “Perjamuan Terakhir” dan “Mona Lisa.” Perjamuan Terakhir alias The Last Supper jadi salah satu karya seni Leonardo da Vinci yang ikonik. Lukisan tersebut dibuat sejak 1495—1498. Lukisan itu menggambarkan sosok Yesus bersama 12 orang muridnya. Last Supper dimaknai pada perkataan Yesus, bahwa salah satu di antara muridnya akan menjadi pengkhianat, seperti termuat dalam Matius 26:21—25. Sosok yang dimaksud itu merujuk pada Yudas Iskariot dan ia dimunculkan dalam lukisan dengan wajah gelisah. Sementara, Yesus digambarkan dengan ketenangan. Hingga kini, Last Supper dipajang di Santa Maria delle Grazie, Milan, Italia.

Mona Lisa dianggap sebagai lukisan karya Leonardo da Vinci paling ternama di dunia hingga saat ini. Lukisan tersebut dibuat di Florence, Italia sejak 1503 hingga 1519, sebelum sang maestro mangkat. Ada banyak hal yang membuat Mona Lisa menjadi istimewa. Misalnya teknik yang digunakan Leonardo, salah satunya melalui teknik stumafo. Kejelian Leonardo mampu memperlihatkan tengkorak di bawah kulit hingga kerudung tipis yang dilukis dengan halus. Senyuman dan tatapan sosok perempuan Mona Lisa jadi bahasan lain. Selain itu, muncul teka-teki tentang siapa sosok Mona Lisa sebenarnya. Ada versi yang mengatakan bahwa Mona Lisa sebenarnya adalah Lisa Gherardini, istri pedagang sutra Italia bernama Francesco del Giocondo. Diduga, Giocondo merupakan pemesan awal lukisan tersebut. Lukisan ini dipajang di Museum Louvre, Paris, Prancis. (Diadaptasi dari https://theconversation.com/8-hal-yang-mungkin-anda-tak-ketahui-tentang-leonardo-da-vinci-500-tahun-setelah-kematiannya-117439)
17. Sebutan “anak haram” digunakan untuk menyampaikan bahwa
Leonardo da Vinci….

3 / 13

TEKS 4
Dikenal luas sebagai salah seorang polymath (berpengetahuan di berbagai bidang) terbesar dalam sejarah manusia, Leonardo da Vinci adalah penemu, seniman, musisi, arsitek, insinyur, ahli anatomi, ahli botani, ahli geologi, sejarawan, dan kartografer. Meskipun karya artistiknya tidak banyak, dampak Leonardo besar. Karyakaryanya mencerminkan pengetahuannya yang mendalam tentang tubuh, penelitiannya yang luas tentang cahaya dan wajah manusia, dan teknik sfumato (bahasa Italia untuk “berasap”), yang memungkinkan gambar menjadi sangat hidup.

Leonardo lahir dari hubungan di luar nikah pada 15 April 1452. Ayahnya, Piero, adalah seorang notaris kaya, dan ibunya, Caterina, adalah seorang gadis petani lokal. Sebagai akibat dari menjadi “anak haram”, Leonardo menerima pendidikan formal yang agak terbatas yang utamanya meliputi aritmatika bisnis. Dia tidak pernah masuk universitas dan kadang-kadang menyebut dirinya sebagai “orang yang tidak berpendidikan”. Pada zamannya sendiri, ia dikenal sebagai orang yang sangat menawan.

Leonardo menciptakan beberapa karya seni paling indah di dunia, beberapa di antaranya adalah lukisan “Perjamuan Terakhir” dan “Mona Lisa.” Perjamuan Terakhir alias The Last Supper jadi salah satu karya seni Leonardo da Vinci yang ikonik. Lukisan tersebut dibuat sejak 1495—1498. Lukisan itu menggambarkan sosok Yesus bersama 12 orang muridnya. Last Supper dimaknai pada perkataan Yesus, bahwa salah satu di antara muridnya akan menjadi pengkhianat, seperti termuat dalam Matius 26:21—25. Sosok yang dimaksud itu merujuk pada Yudas Iskariot dan ia dimunculkan dalam lukisan dengan wajah gelisah. Sementara, Yesus digambarkan dengan ketenangan. Hingga kini, Last Supper dipajang di Santa Maria delle Grazie, Milan, Italia.

Mona Lisa dianggap sebagai lukisan karya Leonardo da Vinci paling ternama di dunia hingga saat ini. Lukisan tersebut dibuat di Florence, Italia sejak 1503 hingga 1519, sebelum sang maestro mangkat. Ada banyak hal yang membuat Mona Lisa menjadi istimewa. Misalnya teknik yang digunakan Leonardo, salah satunya melalui teknik stumafo. Kejelian Leonardo mampu memperlihatkan tengkorak di bawah kulit hingga kerudung tipis yang dilukis dengan halus. Senyuman dan tatapan sosok perempuan Mona Lisa jadi bahasan lain. Selain itu, muncul teka-teki tentang siapa sosok Mona Lisa sebenarnya. Ada versi yang mengatakan bahwa Mona Lisa sebenarnya adalah Lisa Gherardini, istri pedagang sutra Italia bernama Francesco del Giocondo. Diduga, Giocondo merupakan pemesan awal lukisan tersebut. Lukisan ini dipajang di Museum Louvre, Paris, Prancis. (Diadaptasi dari https://theconversation.com/8-hal-yang-mungkin-anda-tak-ketahui-tentang-leonardo-da-vinci-500-tahun-setelah-kematiannya-117439)
19. Leonardo da Vinci yang memiliki pengetahuan tentang
komposisi, struktur, dan sejarah bumi maka sesuai bacaan ia
adalah….

4 / 13

TEKS 4
Dikenal luas sebagai salah seorang polymath (berpengetahuan di berbagai bidang) terbesar dalam sejarah manusia, Leonardo da Vinci adalah penemu, seniman, musisi, arsitek, insinyur, ahli anatomi, ahli botani, ahli geologi, sejarawan, dan kartografer. Meskipun karya artistiknya tidak banyak, dampak Leonardo besar. Karyakaryanya mencerminkan pengetahuannya yang mendalam tentang tubuh, penelitiannya yang luas tentang cahaya dan wajah manusia, dan teknik sfumato (bahasa Italia untuk “berasap”), yang memungkinkan gambar menjadi sangat hidup.

Leonardo lahir dari hubungan di luar nikah pada 15 April 1452. Ayahnya, Piero, adalah seorang notaris kaya, dan ibunya, Caterina, adalah seorang gadis petani lokal. Sebagai akibat dari menjadi “anak haram”, Leonardo menerima pendidikan formal yang agak terbatas yang utamanya meliputi aritmatika bisnis. Dia tidak pernah masuk universitas dan kadang-kadang menyebut dirinya sebagai “orang yang tidak berpendidikan”. Pada zamannya sendiri, ia dikenal sebagai orang yang sangat menawan.

Leonardo menciptakan beberapa karya seni paling indah di dunia, beberapa di antaranya adalah lukisan “Perjamuan Terakhir” dan “Mona Lisa.” Perjamuan Terakhir alias The Last Supper jadi salah satu karya seni Leonardo da Vinci yang ikonik. Lukisan tersebut dibuat sejak 1495—1498. Lukisan itu menggambarkan sosok Yesus bersama 12 orang muridnya. Last Supper dimaknai pada perkataan Yesus, bahwa salah satu di antara muridnya akan menjadi pengkhianat, seperti termuat dalam Matius 26:21—25. Sosok yang dimaksud itu merujuk pada Yudas Iskariot dan ia dimunculkan dalam lukisan dengan wajah gelisah. Sementara, Yesus digambarkan dengan ketenangan. Hingga kini, Last Supper dipajang di Santa Maria delle Grazie, Milan, Italia.

Mona Lisa dianggap sebagai lukisan karya Leonardo da Vinci paling ternama di dunia hingga saat ini. Lukisan tersebut dibuat di Florence, Italia sejak 1503 hingga 1519, sebelum sang maestro mangkat. Ada banyak hal yang membuat Mona Lisa menjadi istimewa. Misalnya teknik yang digunakan Leonardo, salah satunya melalui teknik stumafo. Kejelian Leonardo mampu memperlihatkan tengkorak di bawah kulit hingga kerudung tipis yang dilukis dengan halus. Senyuman dan tatapan sosok perempuan Mona Lisa jadi bahasan lain. Selain itu, muncul teka-teki tentang siapa sosok Mona Lisa sebenarnya. Ada versi yang mengatakan bahwa Mona Lisa sebenarnya adalah Lisa Gherardini, istri pedagang sutra Italia bernama Francesco del Giocondo. Diduga, Giocondo merupakan pemesan awal lukisan tersebut. Lukisan ini dipajang di Museum Louvre, Paris, Prancis. (Diadaptasi dari https://theconversation.com/8-hal-yang-mungkin-anda-tak-ketahui-tentang-leonardo-da-vinci-500-tahun-setelah-kematiannya-117439)
20. Hal yang digambarkan di dalam lukisan The Last Supper sesuai
bacaan adalah….

5 / 13

TEKS 5
Fenomena banjir di Bekasi pada tahun 2026 dapat dilihat sebagai cermin kompleks dari interaksi antara struktur sosial, budaya, dan akses literasi lingkungan di masyarakat. Secara sosiologis, banjir bukan sekadar bencana alam murni, melainkan juga “bencana buatan manusia” (sociological disaster) yang dipicu oleh pola pembangunan perkotaan yang timpang dan kegagalan kolektif dalam mengelola ruang hidup. Di Bekasi, tekanan demografis dan industrialisasi yang masif tanpa perencanaan tata ruang yang berkelanjutan telah mengubah daerah resapan air menjadi beton dan permukiman padat. Ketimpangan sosial semakin memperparah dampaknya; masyarakat kelas menengah ke atas mungkin memiliki sumber daya untuk mengatasi atau bahkan menghindari banjir dengan berpindah ke lokasi yang lebih aman, sementara kelompok miskin perkotaan, yang sering tinggal di bantaran sungai atau daerah rendah, menjadi pihak paling rentan dan menanggung beban terberat. Dengan demikian, banjir memperlihatkan bagaimana ketidakadilan sosial dan ekonomi termanifestasi dalam kerentanan terhadap bencana, di mana akses terhadap lingkungan sehat dan perlindungan menjadi hak istimewa yang tidak merata.

Literasi lingkungan masyarakat, yang mencakup pemahaman tentang ekosistem lokal, siklus air, dan dampak perilaku sehari-hari terhadap alam, memainkan peran kritis dalam mencegah dan memitigasi banjir. Namun, di Bekasi, masih terdapat kesenjangan literasi yang signifikan antara pengetahuan teknis para ahli, kebijakan pemerintah, dan kesadaran warga di tingkat akar rumput. Banyak program edukasi dari pemerintah atau LSM tentang pengelolaan sampah, pelestarian sungai, dan drainase sering tidak tersampaikan secara efektif karena kurangnya pendekatan partisipatif dan budaya baca-tulis yang rendah mengenai isu lingkungan. Akibatnya, praktik membuang sampah sembarangan, penyempitan saluran air oleh bangunan liar, dan eksploitasi air tanah secara berlebihan terus berlangsung. Literasi digital yang tinggi belum sepenuhnya diarahkan untuk membangun kesadaran ekologis; justru, informasi simpang siur dan hoaks tentang penyebab banjir sering beredar, mengaburkan akar permasalahan struktural seperti lemahnya penegakan hukum terhadap pencemar sungai oleh industri.

Dari perspektif sosiologi komunikasi, bencana banjir 2026 juga mengungkap dinamika relasi kuasa dalam produksi dan distribusi pengetahuan. Narasi publik tentang banjir sering didominasi oleh wacana teknokratis—seperti pembangunan pompa banjir atau normalisasi sungai—yang cenderung mengabaikan faktor-faktor sosial budaya seperti nilai-nilai komunitas lokal, kearifan tradisional dalam mengelola air, atau resistensi warga terhadap relokasi. Di sisi lain, literasi kritis masyarakat sipil, yang didorong oleh kelompok aktivis dan akademisi, mencoba mendekonstruksi narasi tersebut dengan menyoroti tanggung jawab korporasi perumahan dan industri yang mengabaikan analisis dampak lingkungan (AMDAL). Namun, akses terhadap informasi yang komprehensif dan data terbuka tentang tata ruang serta kebijakan publik masih terbatas, membuat advokasi berbasis data menjadi tantangan. Hal ini menunjukkan bahwa literasi tidak hanya tentang kemampuan membaca, tetapi juga tentang akses terhadap pengetahuan yang memberdayakan untuk menuntut akuntabilitas dari pemangku kebijakan.**

Pada akhirnya, mengatasi banjir di Bekasi memerlukan pendekatan sosio-ekologis yang mengintegrasikan peningkatan literasi lingkungan dengan transformasi struktur sosial. Upaya ini harus melibatkan pendidikan literasi ekologi sejak dini di sekolah-sekolah, kampanye media yang masif berbasis bukti ilmiah, serta penguatan modal sosial melalui gotong royong komunitas dalam menjaga saluran air dan ruang terbuka hijau. Dari kacamata sosiologi, membangun “komunitas tangguh banjir” membutuhkan lebih dari sekadar infrastruktur; diperlukan pemberdayaan masyarakat melalui literasi yang memadai agar mereka dapat berpartisipasi aktif dalam perencanaan kota, memonitor kebijakan publik, dan mengubah perilaku kolektif. Banjir 2026 menjadi momentum refleksi bahwa bencana adalah hasil dari hubungan manusia dengan alam yang tidak harmonis, dan hanya dengan memperbaiki hubungan tersebut—melalui keadilan sosial, pemerataan akses informasi, dan peningkatan kesadaran ekologis—Bekasi dapat membangun ketahanan yang berkelanjutan untuk masa depan.
21. Secara sosiologis, fenomena banjir di Bekasi 2026 dalam teks
digambarkan terutama sebagai….

6 / 13

TEKS 5
Fenomena banjir di Bekasi pada tahun 2026 dapat dilihat sebagai cermin kompleks dari interaksi antara struktur sosial, budaya, dan akses literasi lingkungan di masyarakat. Secara sosiologis, banjir bukan sekadar bencana alam murni, melainkan juga “bencana buatan manusia” (sociological disaster) yang dipicu oleh pola pembangunan perkotaan yang timpang dan kegagalan kolektif dalam mengelola ruang hidup. Di Bekasi, tekanan demografis dan industrialisasi yang masif tanpa perencanaan tata ruang yang berkelanjutan telah mengubah daerah resapan air menjadi beton dan permukiman padat. Ketimpangan sosial semakin memperparah dampaknya; masyarakat kelas menengah ke atas mungkin memiliki sumber daya untuk mengatasi atau bahkan menghindari banjir dengan berpindah ke lokasi yang lebih aman, sementara kelompok miskin perkotaan, yang sering tinggal di bantaran sungai atau daerah rendah, menjadi pihak paling rentan dan menanggung beban terberat. Dengan demikian, banjir memperlihatkan bagaimana ketidakadilan sosial dan ekonomi termanifestasi dalam kerentanan terhadap bencana, di mana akses terhadap lingkungan sehat dan perlindungan menjadi hak istimewa yang tidak merata.

Literasi lingkungan masyarakat, yang mencakup pemahaman tentang ekosistem lokal, siklus air, dan dampak perilaku sehari-hari terhadap alam, memainkan peran kritis dalam mencegah dan memitigasi banjir. Namun, di Bekasi, masih terdapat kesenjangan literasi yang signifikan antara pengetahuan teknis para ahli, kebijakan pemerintah, dan kesadaran warga di tingkat akar rumput. Banyak program edukasi dari pemerintah atau LSM tentang pengelolaan sampah, pelestarian sungai, dan drainase sering tidak tersampaikan secara efektif karena kurangnya pendekatan partisipatif dan budaya baca-tulis yang rendah mengenai isu lingkungan. Akibatnya, praktik membuang sampah sembarangan, penyempitan saluran air oleh bangunan liar, dan eksploitasi air tanah secara berlebihan terus berlangsung. Literasi digital yang tinggi belum sepenuhnya diarahkan untuk membangun kesadaran ekologis; justru, informasi simpang siur dan hoaks tentang penyebab banjir sering beredar, mengaburkan akar permasalahan struktural seperti lemahnya penegakan hukum terhadap pencemar sungai oleh industri.

Dari perspektif sosiologi komunikasi, bencana banjir 2026 juga mengungkap dinamika relasi kuasa dalam produksi dan distribusi pengetahuan. Narasi publik tentang banjir sering didominasi oleh wacana teknokratis—seperti pembangunan pompa banjir atau normalisasi sungai—yang cenderung mengabaikan faktor-faktor sosial budaya seperti nilai-nilai komunitas lokal, kearifan tradisional dalam mengelola air, atau resistensi warga terhadap relokasi. Di sisi lain, literasi kritis masyarakat sipil, yang didorong oleh kelompok aktivis dan akademisi, mencoba mendekonstruksi narasi tersebut dengan menyoroti tanggung jawab korporasi perumahan dan industri yang mengabaikan analisis dampak lingkungan (AMDAL). Namun, akses terhadap informasi yang komprehensif dan data terbuka tentang tata ruang serta kebijakan publik masih terbatas, membuat advokasi berbasis data menjadi tantangan. Hal ini menunjukkan bahwa literasi tidak hanya tentang kemampuan membaca, tetapi juga tentang akses terhadap pengetahuan yang memberdayakan untuk menuntut akuntabilitas dari pemangku kebijakan.**

Pada akhirnya, mengatasi banjir di Bekasi memerlukan pendekatan sosio-ekologis yang mengintegrasikan peningkatan literasi lingkungan dengan transformasi struktur sosial. Upaya ini harus melibatkan pendidikan literasi ekologi sejak dini di sekolah-sekolah, kampanye media yang masif berbasis bukti ilmiah, serta penguatan modal sosial melalui gotong royong komunitas dalam menjaga saluran air dan ruang terbuka hijau. Dari kacamata sosiologi, membangun “komunitas tangguh banjir” membutuhkan lebih dari sekadar infrastruktur; diperlukan pemberdayaan masyarakat melalui literasi yang memadai agar mereka dapat berpartisipasi aktif dalam perencanaan kota, memonitor kebijakan publik, dan mengubah perilaku kolektif. Banjir 2026 menjadi momentum refleksi bahwa bencana adalah hasil dari hubungan manusia dengan alam yang tidak harmonis, dan hanya dengan memperbaiki hubungan tersebut—melalui keadilan sosial, pemerataan akses informasi, dan peningkatan kesadaran ekologis—Bekasi dapat membangun ketahanan yang berkelanjutan untuk masa depan.
22. Analisis sosiologi dalam teks menunjukkan bahwa ketimpangan
sosial memperparah dampak banjir. Manifestasi ketimpangan
tersebut terutama terlihat dalam….

7 / 13

TEKS 5
Fenomena banjir di Bekasi pada tahun 2026 dapat dilihat sebagai cermin kompleks dari interaksi antara struktur sosial, budaya, dan akses literasi lingkungan di masyarakat. Secara sosiologis, banjir bukan sekadar bencana alam murni, melainkan juga “bencana buatan manusia” (sociological disaster) yang dipicu oleh pola pembangunan perkotaan yang timpang dan kegagalan kolektif dalam mengelola ruang hidup. Di Bekasi, tekanan demografis dan industrialisasi yang masif tanpa perencanaan tata ruang yang berkelanjutan telah mengubah daerah resapan air menjadi beton dan permukiman padat. Ketimpangan sosial semakin memperparah dampaknya; masyarakat kelas menengah ke atas mungkin memiliki sumber daya untuk mengatasi atau bahkan menghindari banjir dengan berpindah ke lokasi yang lebih aman, sementara kelompok miskin perkotaan, yang sering tinggal di bantaran sungai atau daerah rendah, menjadi pihak paling rentan dan menanggung beban terberat. Dengan demikian, banjir memperlihatkan bagaimana ketidakadilan sosial dan ekonomi termanifestasi dalam kerentanan terhadap bencana, di mana akses terhadap lingkungan sehat dan perlindungan menjadi hak istimewa yang tidak merata.

Literasi lingkungan masyarakat, yang mencakup pemahaman tentang ekosistem lokal, siklus air, dan dampak perilaku sehari-hari terhadap alam, memainkan peran kritis dalam mencegah dan memitigasi banjir. Namun, di Bekasi, masih terdapat kesenjangan literasi yang signifikan antara pengetahuan teknis para ahli, kebijakan pemerintah, dan kesadaran warga di tingkat akar rumput. Banyak program edukasi dari pemerintah atau LSM tentang pengelolaan sampah, pelestarian sungai, dan drainase sering tidak tersampaikan secara efektif karena kurangnya pendekatan partisipatif dan budaya baca-tulis yang rendah mengenai isu lingkungan. Akibatnya, praktik membuang sampah sembarangan, penyempitan saluran air oleh bangunan liar, dan eksploitasi air tanah secara berlebihan terus berlangsung. Literasi digital yang tinggi belum sepenuhnya diarahkan untuk membangun kesadaran ekologis; justru, informasi simpang siur dan hoaks tentang penyebab banjir sering beredar, mengaburkan akar permasalahan struktural seperti lemahnya penegakan hukum terhadap pencemar sungai oleh industri.

Dari perspektif sosiologi komunikasi, bencana banjir 2026 juga mengungkap dinamika relasi kuasa dalam produksi dan distribusi pengetahuan. Narasi publik tentang banjir sering didominasi oleh wacana teknokratis—seperti pembangunan pompa banjir atau normalisasi sungai—yang cenderung mengabaikan faktor-faktor sosial budaya seperti nilai-nilai komunitas lokal, kearifan tradisional dalam mengelola air, atau resistensi warga terhadap relokasi. Di sisi lain, literasi kritis masyarakat sipil, yang didorong oleh kelompok aktivis dan akademisi, mencoba mendekonstruksi narasi tersebut dengan menyoroti tanggung jawab korporasi perumahan dan industri yang mengabaikan analisis dampak lingkungan (AMDAL). Namun, akses terhadap informasi yang komprehensif dan data terbuka tentang tata ruang serta kebijakan publik masih terbatas, membuat advokasi berbasis data menjadi tantangan. Hal ini menunjukkan bahwa literasi tidak hanya tentang kemampuan membaca, tetapi juga tentang akses terhadap pengetahuan yang memberdayakan untuk menuntut akuntabilitas dari pemangku kebijakan.**

Pada akhirnya, mengatasi banjir di Bekasi memerlukan pendekatan sosio-ekologis yang mengintegrasikan peningkatan literasi lingkungan dengan transformasi struktur sosial. Upaya ini harus melibatkan pendidikan literasi ekologi sejak dini di sekolah-sekolah, kampanye media yang masif berbasis bukti ilmiah, serta penguatan modal sosial melalui gotong royong komunitas dalam menjaga saluran air dan ruang terbuka hijau. Dari kacamata sosiologi, membangun “komunitas tangguh banjir” membutuhkan lebih dari sekadar infrastruktur; diperlukan pemberdayaan masyarakat melalui literasi yang memadai agar mereka dapat berpartisipasi aktif dalam perencanaan kota, memonitor kebijakan publik, dan mengubah perilaku kolektif. Banjir 2026 menjadi momentum refleksi bahwa bencana adalah hasil dari hubungan manusia dengan alam yang tidak harmonis, dan hanya dengan memperbaiki hubungan tersebut—melalui keadilan sosial, pemerataan akses informasi, dan peningkatan kesadaran ekologis—Bekasi dapat membangun ketahanan yang berkelanjutan untuk masa depan.
23. Teori sosiologi yang paling relevan untuk menganalisis
pernyataan “banjir bukan sekadar bencana alam murni,
melainkan juga ‘bencana buatan manusia’ (sociological
disaster)” dalam teks adalah….

8 / 13

TEKS 5
Fenomena banjir di Bekasi pada tahun 2026 dapat dilihat sebagai cermin kompleks dari interaksi antara struktur sosial, budaya, dan akses literasi lingkungan di masyarakat. Secara sosiologis, banjir bukan sekadar bencana alam murni, melainkan juga “bencana buatan manusia” (sociological disaster) yang dipicu oleh pola pembangunan perkotaan yang timpang dan kegagalan kolektif dalam mengelola ruang hidup. Di Bekasi, tekanan demografis dan industrialisasi yang masif tanpa perencanaan tata ruang yang berkelanjutan telah mengubah daerah resapan air menjadi beton dan permukiman padat. Ketimpangan sosial semakin memperparah dampaknya; masyarakat kelas menengah ke atas mungkin memiliki sumber daya untuk mengatasi atau bahkan menghindari banjir dengan berpindah ke lokasi yang lebih aman, sementara kelompok miskin perkotaan, yang sering tinggal di bantaran sungai atau daerah rendah, menjadi pihak paling rentan dan menanggung beban terberat. Dengan demikian, banjir memperlihatkan bagaimana ketidakadilan sosial dan ekonomi termanifestasi dalam kerentanan terhadap bencana, di mana akses terhadap lingkungan sehat dan perlindungan menjadi hak istimewa yang tidak merata.

Literasi lingkungan masyarakat, yang mencakup pemahaman tentang ekosistem lokal, siklus air, dan dampak perilaku sehari-hari terhadap alam, memainkan peran kritis dalam mencegah dan memitigasi banjir. Namun, di Bekasi, masih terdapat kesenjangan literasi yang signifikan antara pengetahuan teknis para ahli, kebijakan pemerintah, dan kesadaran warga di tingkat akar rumput. Banyak program edukasi dari pemerintah atau LSM tentang pengelolaan sampah, pelestarian sungai, dan drainase sering tidak tersampaikan secara efektif karena kurangnya pendekatan partisipatif dan budaya baca-tulis yang rendah mengenai isu lingkungan. Akibatnya, praktik membuang sampah sembarangan, penyempitan saluran air oleh bangunan liar, dan eksploitasi air tanah secara berlebihan terus berlangsung. Literasi digital yang tinggi belum sepenuhnya diarahkan untuk membangun kesadaran ekologis; justru, informasi simpang siur dan hoaks tentang penyebab banjir sering beredar, mengaburkan akar permasalahan struktural seperti lemahnya penegakan hukum terhadap pencemar sungai oleh industri.

Dari perspektif sosiologi komunikasi, bencana banjir 2026 juga mengungkap dinamika relasi kuasa dalam produksi dan distribusi pengetahuan. Narasi publik tentang banjir sering didominasi oleh wacana teknokratis—seperti pembangunan pompa banjir atau normalisasi sungai—yang cenderung mengabaikan faktor-faktor sosial budaya seperti nilai-nilai komunitas lokal, kearifan tradisional dalam mengelola air, atau resistensi warga terhadap relokasi. Di sisi lain, literasi kritis masyarakat sipil, yang didorong oleh kelompok aktivis dan akademisi, mencoba mendekonstruksi narasi tersebut dengan menyoroti tanggung jawab korporasi perumahan dan industri yang mengabaikan analisis dampak lingkungan (AMDAL). Namun, akses terhadap informasi yang komprehensif dan data terbuka tentang tata ruang serta kebijakan publik masih terbatas, membuat advokasi berbasis data menjadi tantangan. Hal ini menunjukkan bahwa literasi tidak hanya tentang kemampuan membaca, tetapi juga tentang akses terhadap pengetahuan yang memberdayakan untuk menuntut akuntabilitas dari pemangku kebijakan.**

Pada akhirnya, mengatasi banjir di Bekasi memerlukan pendekatan sosio-ekologis yang mengintegrasikan peningkatan literasi lingkungan dengan transformasi struktur sosial. Upaya ini harus melibatkan pendidikan literasi ekologi sejak dini di sekolah-sekolah, kampanye media yang masif berbasis bukti ilmiah, serta penguatan modal sosial melalui gotong royong komunitas dalam menjaga saluran air dan ruang terbuka hijau. Dari kacamata sosiologi, membangun “komunitas tangguh banjir” membutuhkan lebih dari sekadar infrastruktur; diperlukan pemberdayaan masyarakat melalui literasi yang memadai agar mereka dapat berpartisipasi aktif dalam perencanaan kota, memonitor kebijakan publik, dan mengubah perilaku kolektif. Banjir 2026 menjadi momentum refleksi bahwa bencana adalah hasil dari hubungan manusia dengan alam yang tidak harmonis, dan hanya dengan memperbaiki hubungan tersebut—melalui keadilan sosial, pemerataan akses informasi, dan peningkatan kesadaran ekologis—Bekasi dapat membangun ketahanan yang berkelanjutan untuk masa depan.
24. Analisislah pernyataan ini berdasarkan teks: “Membangun
‘komunitas tangguh banjir’ membutuhkan lebih dari sekadar
infrastruktur.”
Pernyataan di atas mengandung makna bahwa ketangguhan
menghadapi banjir sangat bergantung pada….

9 / 13

TEKS 6
Rapat dibuka bakda Isya ketika gerimis tiris dan langit malam menghamparkan warna abu-abu pucat. Sekitar 15 kepala keluarga Cibaresah berkumpul di rumah Munar. Mereka mau memenuhi undangan lantaran pengundangnya sesepuh desa. Sebagian dengan perasaan terpaksa dan masygul. Sebagian lagi cari angin. Sebagian karena ingin ngerumpi. Cuma Casmidi yang tidak hadir. Karena dia tidak diundang. Karena dialah yang membuat sesepuh desa bernama Munar menggelar rapat pada hari itu. Namun, istri dan anaknya ada di sana.

Munar, sang sesepuh desa, berusia hampir 70-an. Meskipun kulit tubuhnya dipenuhi keriput sekujurnya, kegesitannya belum banyak tergerus. Meskipun juga tidak jelas apa mata pencahariannya, Munar mampu memberi makan empat istri dengan masing-masingnya memiliki tiga hingga lima anak. Cucunya belasan. Namun, ini memang bukan cerita tentang Munar yang—meskipun sepuh, tetapi—matanya masih selalu menyemburkan api apabila melihat wanita muda dan cantik. Ini soal Casmidi semata. Laki-laki yang sudah memberi Cisminah seorang anak laki-laki yang diberinya nama Cusd’amato.

Munar sangat disegani karenanya. Karena pertama, dia tertua di dusun itu. Karena kedua, dia dianggap bijak bestari. Karena ketiga, dia berilmu lahir dan batin. Setelah itu, orang lain suka atau tidak, bininya empat dan akur satu sama lain. Tak ada laki-laki senekat Munar. Karenanya, begitu dia melangkah mantap menaiki podium, semua mulut hadirin terkatup rapat. Diam menunggu. Cuma gesekan dedaunan rumpun bambu yang terdengar karena embusan angin.

Sebelum membuka mulutnya, Munar menandai penghargaannya atas kehadiran warga dengan menyapukan pandangan kepada seluruh tamunya dengan senyumnya. Tak lupa anggukan-anggukan takzimnya. Sesaat kemudian, setelah membuka acara dengan sejumlah kalimat dan bacaan-bacaan sebagaimana mestinya, Munar menyilakan Cisminah naik ke podium untuk mengurai persoalan hidup yang tengah dihadapinya—meskipun dia tahu Cis pasti kian tersiksa karenanya.
26. Persamaan Munar dan Casmidi berdasarkan bacaan adalah…

10 / 13

TEKS 6
Rapat dibuka bakda Isya ketika gerimis tiris dan langit malam menghamparkan warna abu-abu pucat. Sekitar 15 kepala keluarga Cibaresah berkumpul di rumah Munar. Mereka mau memenuhi undangan lantaran pengundangnya sesepuh desa. Sebagian dengan perasaan terpaksa dan masygul. Sebagian lagi cari angin. Sebagian karena ingin ngerumpi. Cuma Casmidi yang tidak hadir. Karena dia tidak diundang. Karena dialah yang membuat sesepuh desa bernama Munar menggelar rapat pada hari itu. Namun, istri dan anaknya ada di sana.

Munar, sang sesepuh desa, berusia hampir 70-an. Meskipun kulit tubuhnya dipenuhi keriput sekujurnya, kegesitannya belum banyak tergerus. Meskipun juga tidak jelas apa mata pencahariannya, Munar mampu memberi makan empat istri dengan masing-masingnya memiliki tiga hingga lima anak. Cucunya belasan. Namun, ini memang bukan cerita tentang Munar yang—meskipun sepuh, tetapi—matanya masih selalu menyemburkan api apabila melihat wanita muda dan cantik. Ini soal Casmidi semata. Laki-laki yang sudah memberi Cisminah seorang anak laki-laki yang diberinya nama Cusd’amato.

Munar sangat disegani karenanya. Karena pertama, dia tertua di dusun itu. Karena kedua, dia dianggap bijak bestari. Karena ketiga, dia berilmu lahir dan batin. Setelah itu, orang lain suka atau tidak, bininya empat dan akur satu sama lain. Tak ada laki-laki senekat Munar. Karenanya, begitu dia melangkah mantap menaiki podium, semua mulut hadirin terkatup rapat. Diam menunggu. Cuma gesekan dedaunan rumpun bambu yang terdengar karena embusan angin.

Sebelum membuka mulutnya, Munar menandai penghargaannya atas kehadiran warga dengan menyapukan pandangan kepada seluruh tamunya dengan senyumnya. Tak lupa anggukan-anggukan takzimnya. Sesaat kemudian, setelah membuka acara dengan sejumlah kalimat dan bacaan-bacaan sebagaimana mestinya, Munar menyilakan Cisminah naik ke podium untuk mengurai persoalan hidup yang tengah dihadapinya—meskipun dia tahu Cis pasti kian tersiksa karenanya.
27. “Matanya masih selalu menyemburkan api apabila melihat
wanita muda dan cantik.”
Kalimat yang maknanya paling sama dengan teks di atas
adalah….

11 / 13

TEKS 6
Rapat dibuka bakda Isya ketika gerimis tiris dan langit malam menghamparkan warna abu-abu pucat. Sekitar 15 kepala keluarga Cibaresah berkumpul di rumah Munar. Mereka mau memenuhi undangan lantaran pengundangnya sesepuh desa. Sebagian dengan perasaan terpaksa dan masygul. Sebagian lagi cari angin. Sebagian karena ingin ngerumpi. Cuma Casmidi yang tidak hadir. Karena dia tidak diundang. Karena dialah yang membuat sesepuh desa bernama Munar menggelar rapat pada hari itu. Namun, istri dan anaknya ada di sana.

Munar, sang sesepuh desa, berusia hampir 70-an. Meskipun kulit tubuhnya dipenuhi keriput sekujurnya, kegesitannya belum banyak tergerus. Meskipun juga tidak jelas apa mata pencahariannya, Munar mampu memberi makan empat istri dengan masing-masingnya memiliki tiga hingga lima anak. Cucunya belasan. Namun, ini memang bukan cerita tentang Munar yang—meskipun sepuh, tetapi—matanya masih selalu menyemburkan api apabila melihat wanita muda dan cantik. Ini soal Casmidi semata. Laki-laki yang sudah memberi Cisminah seorang anak laki-laki yang diberinya nama Cusd’amato.

Munar sangat disegani karenanya. Karena pertama, dia tertua di dusun itu. Karena kedua, dia dianggap bijak bestari. Karena ketiga, dia berilmu lahir dan batin. Setelah itu, orang lain suka atau tidak, bininya empat dan akur satu sama lain. Tak ada laki-laki senekat Munar. Karenanya, begitu dia melangkah mantap menaiki podium, semua mulut hadirin terkatup rapat. Diam menunggu. Cuma gesekan dedaunan rumpun bambu yang terdengar karena embusan angin.

Sebelum membuka mulutnya, Munar menandai penghargaannya atas kehadiran warga dengan menyapukan pandangan kepada seluruh tamunya dengan senyumnya. Tak lupa anggukan-anggukan takzimnya. Sesaat kemudian, setelah membuka acara dengan sejumlah kalimat dan bacaan-bacaan sebagaimana mestinya, Munar menyilakan Cisminah naik ke podium untuk mengurai persoalan hidup yang tengah dihadapinya—meskipun dia tahu Cis pasti kian tersiksa karenanya.
28. Melalui bacaan, jika tokoh Munar bukan seorang sesepuh desa..

12 / 13

TEKS 6
Rapat dibuka bakda Isya ketika gerimis tiris dan langit malam menghamparkan warna abu-abu pucat. Sekitar 15 kepala keluarga Cibaresah berkumpul di rumah Munar. Mereka mau memenuhi undangan lantaran pengundangnya sesepuh desa. Sebagian dengan perasaan terpaksa dan masygul. Sebagian lagi cari angin. Sebagian karena ingin ngerumpi. Cuma Casmidi yang tidak hadir. Karena dia tidak diundang. Karena dialah yang membuat sesepuh desa bernama Munar menggelar rapat pada hari itu. Namun, istri dan anaknya ada di sana.

Munar, sang sesepuh desa, berusia hampir 70-an. Meskipun kulit tubuhnya dipenuhi keriput sekujurnya, kegesitannya belum banyak tergerus. Meskipun juga tidak jelas apa mata pencahariannya, Munar mampu memberi makan empat istri dengan masing-masingnya memiliki tiga hingga lima anak. Cucunya belasan. Namun, ini memang bukan cerita tentang Munar yang—meskipun sepuh, tetapi—matanya masih selalu menyemburkan api apabila melihat wanita muda dan cantik. Ini soal Casmidi semata. Laki-laki yang sudah memberi Cisminah seorang anak laki-laki yang diberinya nama Cusd’amato.

Munar sangat disegani karenanya. Karena pertama, dia tertua di dusun itu. Karena kedua, dia dianggap bijak bestari. Karena ketiga, dia berilmu lahir dan batin. Setelah itu, orang lain suka atau tidak, bininya empat dan akur satu sama lain. Tak ada laki-laki senekat Munar. Karenanya, begitu dia melangkah mantap menaiki podium, semua mulut hadirin terkatup rapat. Diam menunggu. Cuma gesekan dedaunan rumpun bambu yang terdengar karena embusan angin.

Sebelum membuka mulutnya, Munar menandai penghargaannya atas kehadiran warga dengan menyapukan pandangan kepada seluruh tamunya dengan senyumnya. Tak lupa anggukan-anggukan takzimnya. Sesaat kemudian, setelah membuka acara dengan sejumlah kalimat dan bacaan-bacaan sebagaimana mestinya, Munar menyilakan Cisminah naik ke podium untuk mengurai persoalan hidup yang tengah dihadapinya—meskipun dia tahu Cis pasti kian tersiksa karenanya.
29. Pernyataan berikut yang tidak termasuk alasan Munar disegani
menurut teks adalah….

13 / 13

TEKS 6
Rapat dibuka bakda Isya ketika gerimis tiris dan langit malam menghamparkan warna abu-abu pucat. Sekitar 15 kepala keluarga Cibaresah berkumpul di rumah Munar. Mereka mau memenuhi undangan lantaran pengundangnya sesepuh desa. Sebagian dengan perasaan terpaksa dan masygul. Sebagian lagi cari angin. Sebagian karena ingin ngerumpi. Cuma Casmidi yang tidak hadir. Karena dia tidak diundang. Karena dialah yang membuat sesepuh desa bernama Munar menggelar rapat pada hari itu. Namun, istri dan anaknya ada di sana.

Munar, sang sesepuh desa, berusia hampir 70-an. Meskipun kulit tubuhnya dipenuhi keriput sekujurnya, kegesitannya belum banyak tergerus. Meskipun juga tidak jelas apa mata pencahariannya, Munar mampu memberi makan empat istri dengan masing-masingnya memiliki tiga hingga lima anak. Cucunya belasan. Namun, ini memang bukan cerita tentang Munar yang—meskipun sepuh, tetapi—matanya masih selalu menyemburkan api apabila melihat wanita muda dan cantik. Ini soal Casmidi semata. Laki-laki yang sudah memberi Cisminah seorang anak laki-laki yang diberinya nama Cusd’amato.

Munar sangat disegani karenanya. Karena pertama, dia tertua di dusun itu. Karena kedua, dia dianggap bijak bestari. Karena ketiga, dia berilmu lahir dan batin. Setelah itu, orang lain suka atau tidak, bininya empat dan akur satu sama lain. Tak ada laki-laki senekat Munar. Karenanya, begitu dia melangkah mantap menaiki podium, semua mulut hadirin terkatup rapat. Diam menunggu. Cuma gesekan dedaunan rumpun bambu yang terdengar karena embusan angin.

Sebelum membuka mulutnya, Munar menandai penghargaannya atas kehadiran warga dengan menyapukan pandangan kepada seluruh tamunya dengan senyumnya. Tak lupa anggukan-anggukan takzimnya. Sesaat kemudian, setelah membuka acara dengan sejumlah kalimat dan bacaan-bacaan sebagaimana mestinya, Munar menyilakan Cisminah naik ke podium untuk mengurai persoalan hidup yang tengah dihadapinya—meskipun dia tahu Cis pasti kian tersiksa karenanya.
30. Tindakan Munar tetap mempersilakan Cisminah berbicara
meski mengetahui risikonya menunjukkan….

Your score is

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *