19. Rian selalu muncul dalam linimasa kenangan ponselku. Sesekali membalas pesan, lalu menghilang berhari-hari. Dahulu ia teman satu kos semasa kuliah. Namun, karena ingin mengejar peruntungan sebagai desainer lepas (freelancer), ia memutuskan merantau ke Jakarta, meninggalkan pekerjaan kantoran yang mapan di kota kelahirannya. Ia memulai dari nol, mengerjakan proyek-proyek kecil lewat platform daring, begadang demi mengejar tenggat waktu klien dari berbagai zona waktu, demi kehidupan yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Dua tahun berada di ibu kota, Rian kehilangan koneksi dengan banyak temannya di kampung halaman, kesibukan yang membawanya jauh dari kehidupan sosial. Sepi merundung hidupnya, di tengah gemerlap gedung pencakar langit dan riuhnya notifikasi pekerjaan, membuatnya sering terjaga hingga dini hari. Barangkali dunia digital tidak mengenal waktu istirahat. Setiap proyek harus diselesaikan tepat waktu agar rating profilnya tetap tinggi. Tiada rekan sekantor untuk sekadar berbincang. Semua ia jalani sendirian, dari mengecek surel pagi, rapat daring siang hari, sampai revisi desain hingga larut malam, lalu mengulang ritme yang sama esok harinya.
Dari kesunyian itu, ia sesekali pulang ke kampung halaman untuk melepas rindu dengan keluarga. Namun, dalam keramaian rumah, ia justru merasa canggung, seperti orang asing di rumahnya sendiri. Suatu malam, saat sedang mengerjakan revisi terakhir, ia tertidur di depan laptop karena kelelahan yang menumpuk. Ibunya menemukannya pagi-pagi dengan mata sembap dan tubuh yang menggigil demam.
Kisahnya menjadi pengingat bagi teman-temannya bahwa di balik layar kesuksesan seorang pekerja lepas, ada perjuangan sunyi yang jarang terlihat. Terlalu sering ia muncul dalam kenangan yang membuatku merenung tentang makna kesuksesan itu sendiri.
Tema kutipan cerita tersebut adalah …
Tinggalkan Balasan