Mini TO LBI 1 UNJ [Revisi]

2

Mini TO LBI 1 UNJ [Revisi]

Anda punya waktu 30 menit untuk mengerjakan 30 soal. Kerjakan dengan jujur sebab ini bahan evaluasi kalian. Semakin banyak latihan dan semakin banyak benar semakin bagus. Anda punya kesempatan tiga kali pengerjaan.Kerjakan di laptop atau tablet agar lebih optimal secara tampilan.

The number of attempts remaining is 6

Isi dulu data diri yaah

1 / 30

Teks 1 — Sistem Dua Massa pada Katrol (Mesin Atwood)

Dua benda dihubungkan oleh seutas tali ringan tak-elastis yang melewati sebuah katrol licin tetap. Benda pertama (m₁) bermassa 3 kg digantung di sisi kiri, dan benda kedua (m₂) bermassa 7 kg digantung di sisi kanan. Sistem dilepaskan dari keadaan diam. Percepatan gravitasi g = 10 m/s².

Pada sistem katrol ideal ini, tegangan tali (T) besarnya sama di seluruh panjang tali, dan kedua benda memiliki percepatan yang besarnya sama namun arahnya berlawanan. Gaya neto yang menggerakkan sistem diperoleh dari selisih berat kedua benda, sementara massa total yang dipercepat adalah jumlah kedua massa. Impuls didefinisikan sebagai hasil kali gaya neto dengan waktu, yang setara dengan perubahan momentum benda.

1. Besar gaya neto yang menggerakkan sistem katrol adalah …
⚠ Gaya neto berasal dari selisih berat, bukan jumlah berat.

2 / 30

Teks 1 — Sistem Dua Massa pada Katrol (Mesin Atwood)

Dua benda dihubungkan oleh seutas tali ringan tak-elastis yang melewati sebuah katrol licin tetap. Benda pertama (m₁) bermassa 3 kg digantung di sisi kiri, dan benda kedua (m₂) bermassa 7 kg digantung di sisi kanan. Sistem dilepaskan dari keadaan diam. Percepatan gravitasi g = 10 m/s².

Pada sistem katrol ideal ini, tegangan tali (T) besarnya sama di seluruh panjang tali, dan kedua benda memiliki percepatan yang besarnya sama namun arahnya berlawanan. Gaya neto yang menggerakkan sistem diperoleh dari selisih berat kedua benda, sementara massa total yang dipercepat adalah jumlah kedua massa. Impuls didefinisikan sebagai hasil kali gaya neto dengan waktu, yang setara dengan perubahan momentum benda.

2. Percepatan sistem saat benda-benda bergerak adalah …

3 / 30

Teks 1 — Sistem Dua Massa pada Katrol (Mesin Atwood)

Dua benda dihubungkan oleh seutas tali ringan tak-elastis yang melewati sebuah katrol licin tetap. Benda pertama (m₁) bermassa 3 kg digantung di sisi kiri, dan benda kedua (m₂) bermassa 7 kg digantung di sisi kanan. Sistem dilepaskan dari keadaan diam. Percepatan gravitasi g = 10 m/s².

Pada sistem katrol ideal ini, tegangan tali (T) besarnya sama di seluruh panjang tali, dan kedua benda memiliki percepatan yang besarnya sama namun arahnya berlawanan. Gaya neto yang menggerakkan sistem diperoleh dari selisih berat kedua benda, sementara massa total yang dipercepat adalah jumlah kedua massa. Impuls didefinisikan sebagai hasil kali gaya neto dengan waktu, yang setara dengan perubahan momentum benda.

3. Tegangan tali yang bekerja pada m₁ adalah …
⚠ Gunakan Hukum Newton II untuk m₁ saja: T − m₁g = m₁a.

4 / 30

Teks 1 — Sistem Dua Massa pada Katrol (Mesin Atwood)

Dua benda dihubungkan oleh seutas tali ringan tak-elastis yang melewati sebuah katrol licin tetap. Benda pertama (m₁) bermassa 3 kg digantung di sisi kiri, dan benda kedua (m₂) bermassa 7 kg digantung di sisi kanan. Sistem dilepaskan dari keadaan diam. Percepatan gravitasi g = 10 m/s².

Pada sistem katrol ideal ini, tegangan tali (T) besarnya sama di seluruh panjang tali, dan kedua benda memiliki percepatan yang besarnya sama namun arahnya berlawanan. Gaya neto yang menggerakkan sistem diperoleh dari selisih berat kedua benda, sementara massa total yang dipercepat adalah jumlah kedua massa. Impuls didefinisikan sebagai hasil kali gaya neto dengan waktu, yang setara dengan perubahan momentum benda.

4. Kecepatan m₂ setelah turun sejauh 2 m dari keadaan diam adalah …

5 / 30

Teks 1 — Sistem Dua Massa pada Katrol (Mesin Atwood)

Dua benda dihubungkan oleh seutas tali ringan tak-elastis yang melewati sebuah katrol licin tetap. Benda pertama (m₁) bermassa 3 kg digantung di sisi kiri, dan benda kedua (m₂) bermassa 7 kg digantung di sisi kanan. Sistem dilepaskan dari keadaan diam. Percepatan gravitasi g = 10 m/s².

Pada sistem katrol ideal ini, tegangan tali (T) besarnya sama di seluruh panjang tali, dan kedua benda memiliki percepatan yang besarnya sama namun arahnya berlawanan. Gaya neto yang menggerakkan sistem diperoleh dari selisih berat kedua benda, sementara massa total yang dipercepat adalah jumlah kedua massa. Impuls didefinisikan sebagai hasil kali gaya neto dengan waktu, yang setara dengan perubahan momentum benda.

5. Waktu yang diperlukan m₂ untuk menempuh 2 m pertama adalah …
⚠ Gunakan s = ½at².

6 / 30

Teks 1 — Sistem Dua Massa pada Katrol (Mesin Atwood)

Dua benda dihubungkan oleh seutas tali ringan tak-elastis yang melewati sebuah katrol licin tetap. Benda pertama (m₁) bermassa 3 kg digantung di sisi kiri, dan benda kedua (m₂) bermassa 7 kg digantung di sisi kanan. Sistem dilepaskan dari keadaan diam. Percepatan gravitasi g = 10 m/s².

Pada sistem katrol ideal ini, tegangan tali (T) besarnya sama di seluruh panjang tali, dan kedua benda memiliki percepatan yang besarnya sama namun arahnya berlawanan. Gaya neto yang menggerakkan sistem diperoleh dari selisih berat kedua benda, sementara massa total yang dipercepat adalah jumlah kedua massa. Impuls didefinisikan sebagai hasil kali gaya neto dengan waktu, yang setara dengan perubahan momentum benda.

6. Impuls total yang diterima m₁ selama 1 sekon pertama gerak adalah …

7 / 30

Teks 2 — Laju Reaksi dan Faktor Pengaruhnya

Laju reaksi kimia menyatakan seberapa cepat reaktan diubah menjadi produk per satuan waktu. Terdapat empat faktor utama yang memengaruhi laju reaksi. Pertama, konsentrasi reaktan—semakin tinggi konsentrasi, semakin sering partikel bertumbukan secara efektif, sehingga laju reaksi meningkat. Kedua, suhu—kenaikan suhu meningkatkan energi kinetik rata-rata partikel sehingga lebih banyak tumbukan yang melampaui energi aktivasi (Ea). Secara empiris, kenaikan suhu 10°C melipatgandakan laju reaksi sekitar dua kali lipat. Ketiga, luas permukaan zat padat—serbuk bereaksi lebih cepat daripada padatan utuh karena luas kontak antara reaktan lebih besar. Keempat, katalis—zat yang mempercepat reaksi dengan menyediakan jalur alternatif yang memiliki energi aktivasi lebih rendah, tanpa ikut dikonsumsi. Berbeda dari faktor lainnya, katalis tidak mengubah konsentrasi, suhu, maupun luas permukaan, melainkan mengubah mekanisme reaksi itu sendiri.

7. Seorang siswa menyimpulkan bahwa kenaikan suhu 10°C PASTI menggandakan laju reaksi tepat dua kali lipat. Berdasarkan teks, kelemahan simpulan ini adalah …

8 / 30

Teks 2 — Laju Reaksi dan Faktor Pengaruhnya

Laju reaksi kimia menyatakan seberapa cepat reaktan diubah menjadi produk per satuan waktu. Terdapat empat faktor utama yang memengaruhi laju reaksi. Pertama, konsentrasi reaktan—semakin tinggi konsentrasi, semakin sering partikel bertumbukan secara efektif, sehingga laju reaksi meningkat. Kedua, suhu—kenaikan suhu meningkatkan energi kinetik rata-rata partikel sehingga lebih banyak tumbukan yang melampaui energi aktivasi (Ea). Secara empiris, kenaikan suhu 10°C melipatgandakan laju reaksi sekitar dua kali lipat. Ketiga, luas permukaan zat padat—serbuk bereaksi lebih cepat daripada padatan utuh karena luas kontak antara reaktan lebih besar. Keempat, katalis—zat yang mempercepat reaksi dengan menyediakan jalur alternatif yang memiliki energi aktivasi lebih rendah, tanpa ikut dikonsumsi. Berbeda dari faktor lainnya, katalis tidak mengubah konsentrasi, suhu, maupun luas permukaan, melainkan mengubah mekanisme reaksi itu sendiri.

8. Perbedaan mendasar antara katalis dan ketiga faktor lain dalam memengaruhi laju reaksi adalah …

9 / 30

Teks 2 — Laju Reaksi dan Faktor Pengaruhnya

Laju reaksi kimia menyatakan seberapa cepat reaktan diubah menjadi produk per satuan waktu. Terdapat empat faktor utama yang memengaruhi laju reaksi. Pertama, konsentrasi reaktan—semakin tinggi konsentrasi, semakin sering partikel bertumbukan secara efektif, sehingga laju reaksi meningkat. Kedua, suhu—kenaikan suhu meningkatkan energi kinetik rata-rata partikel sehingga lebih banyak tumbukan yang melampaui energi aktivasi (Ea). Secara empiris, kenaikan suhu 10°C melipatgandakan laju reaksi sekitar dua kali lipat. Ketiga, luas permukaan zat padat—serbuk bereaksi lebih cepat daripada padatan utuh karena luas kontak antara reaktan lebih besar. Keempat, katalis—zat yang mempercepat reaksi dengan menyediakan jalur alternatif yang memiliki energi aktivasi lebih rendah, tanpa ikut dikonsumsi. Berbeda dari faktor lainnya, katalis tidak mengubah konsentrasi, suhu, maupun luas permukaan, melainkan mengubah mekanisme reaksi itu sendiri.

9. Mengapa serbuk besi bereaksi lebih cepat dengan asam klorida dibanding batang besi bermassa sama?

10 / 30

Teks 2 — Laju Reaksi dan Faktor Pengaruhnya

Laju reaksi kimia menyatakan seberapa cepat reaktan diubah menjadi produk per satuan waktu. Terdapat empat faktor utama yang memengaruhi laju reaksi. Pertama, konsentrasi reaktan—semakin tinggi konsentrasi, semakin sering partikel bertumbukan secara efektif, sehingga laju reaksi meningkat. Kedua, suhu—kenaikan suhu meningkatkan energi kinetik rata-rata partikel sehingga lebih banyak tumbukan yang melampaui energi aktivasi (Ea). Secara empiris, kenaikan suhu 10°C melipatgandakan laju reaksi sekitar dua kali lipat. Ketiga, luas permukaan zat padat—serbuk bereaksi lebih cepat daripada padatan utuh karena luas kontak antara reaktan lebih besar. Keempat, katalis—zat yang mempercepat reaksi dengan menyediakan jalur alternatif yang memiliki energi aktivasi lebih rendah, tanpa ikut dikonsumsi. Berbeda dari faktor lainnya, katalis tidak mengubah konsentrasi, suhu, maupun luas permukaan, melainkan mengubah mekanisme reaksi itu sendiri.

10. Jika suatu reaksi ditambahkan katalis, pernyataan yang paling tepat adalah …

11 / 30

Teks 3 — Hipotalamus, Hipofisis, dan Umpan Balik Negatif

Sistem endokrin adalah jaringan kelenjar yang melepaskan hormon langsung ke aliran darah. Hormon bekerja pada sel target yang memiliki reseptor spesifik—ibarat kunci yang hanya cocok dengan gembok tertentu. Hipotalamus berperan sebagai penghubung sistem saraf dan endokrin: ia mengeluarkan hormon pelepas (releasing hormone) yang merangsang hipofisis anterior untuk memproduksi hormon tropik, yang kemudian merangsang kelenjar sasaran (tiroid, adrenal, gonad) memproduksi hormon efektornya.

Sistem ini dikendalikan oleh umpan balik negatif (negative feedback): ketika kadar hormon efektor sudah cukup tinggi, sinyal dikirim kembali ke hipotalamus dan hipofisis untuk mengurangi produksi hormon tropik—sehingga kadar hormon kembali normal. Sebagai contoh, kadar tiroksin yang tinggi menghambat sekresi TSH (Thyroid Stimulating Hormone) oleh hipofisis, sehingga produksi tiroksin secara otomatis berkurang.

11. Jika hipotalamus seseorang tidak dapat memproduksi releasing hormone, dampak berantai yang paling tepat adalah …

12 / 30

Teks 3 — Hipotalamus, Hipofisis, dan Umpan Balik Negatif

Sistem endokrin adalah jaringan kelenjar yang melepaskan hormon langsung ke aliran darah. Hormon bekerja pada sel target yang memiliki reseptor spesifik—ibarat kunci yang hanya cocok dengan gembok tertentu. Hipotalamus berperan sebagai penghubung sistem saraf dan endokrin: ia mengeluarkan hormon pelepas (releasing hormone) yang merangsang hipofisis anterior untuk memproduksi hormon tropik, yang kemudian merangsang kelenjar sasaran (tiroid, adrenal, gonad) memproduksi hormon efektornya.

Sistem ini dikendalikan oleh umpan balik negatif (negative feedback): ketika kadar hormon efektor sudah cukup tinggi, sinyal dikirim kembali ke hipotalamus dan hipofisis untuk mengurangi produksi hormon tropik—sehingga kadar hormon kembali normal. Sebagai contoh, kadar tiroksin yang tinggi menghambat sekresi TSH (Thyroid Stimulating Hormone) oleh hipofisis, sehingga produksi tiroksin secara otomatis berkurang.

12. Tujuan mekanisme umpan balik negatif pada sistem endokrin adalah …

13 / 30

Teks 3 — Hipotalamus, Hipofisis, dan Umpan Balik Negatif

Sistem endokrin adalah jaringan kelenjar yang melepaskan hormon langsung ke aliran darah. Hormon bekerja pada sel target yang memiliki reseptor spesifik—ibarat kunci yang hanya cocok dengan gembok tertentu. Hipotalamus berperan sebagai penghubung sistem saraf dan endokrin: ia mengeluarkan hormon pelepas (releasing hormone) yang merangsang hipofisis anterior untuk memproduksi hormon tropik, yang kemudian merangsang kelenjar sasaran (tiroid, adrenal, gonad) memproduksi hormon efektornya.

Sistem ini dikendalikan oleh umpan balik negatif (negative feedback): ketika kadar hormon efektor sudah cukup tinggi, sinyal dikirim kembali ke hipotalamus dan hipofisis untuk mengurangi produksi hormon tropik—sehingga kadar hormon kembali normal. Sebagai contoh, kadar tiroksin yang tinggi menghambat sekresi TSH (Thyroid Stimulating Hormone) oleh hipofisis, sehingga produksi tiroksin secara otomatis berkurang.

13. Analogi ‘kunci dan gembok’ antara hormon dan reseptor menjelaskan mengapa …

14 / 30

Teks 3 — Hipotalamus, Hipofisis, dan Umpan Balik Negatif

Sistem endokrin adalah jaringan kelenjar yang melepaskan hormon langsung ke aliran darah. Hormon bekerja pada sel target yang memiliki reseptor spesifik—ibarat kunci yang hanya cocok dengan gembok tertentu. Hipotalamus berperan sebagai penghubung sistem saraf dan endokrin: ia mengeluarkan hormon pelepas (releasing hormone) yang merangsang hipofisis anterior untuk memproduksi hormon tropik, yang kemudian merangsang kelenjar sasaran (tiroid, adrenal, gonad) memproduksi hormon efektornya.

Sistem ini dikendalikan oleh umpan balik negatif (negative feedback): ketika kadar hormon efektor sudah cukup tinggi, sinyal dikirim kembali ke hipotalamus dan hipofisis untuk mengurangi produksi hormon tropik—sehingga kadar hormon kembali normal. Sebagai contoh, kadar tiroksin yang tinggi menghambat sekresi TSH (Thyroid Stimulating Hormone) oleh hipofisis, sehingga produksi tiroksin secara otomatis berkurang.

14. Seseorang dengan hipotiroidisme (kadar tiroksin sangat rendah) kemungkinan memiliki kadar TSH yang …

15 / 30

Teks 4 — Eksternalitas Positif, Negatif, dan Pajak Pigouvian

Kegagalan pasar (market failure) terjadi ketika mekanisme harga gagal mengalokasikan sumber daya secara efisien. Salah satu penyebab utamanya adalah eksternalitas—dampak dari kegiatan ekonomi yang dirasakan pihak ketiga yang tidak terlibat dalam transaksi. Eksternalitas negatif terjadi ketika kegiatan produksi menimbulkan biaya sosial yang tidak ditanggung pelaku ekonomi itu sendiri—misalnya polusi pabrik yang ditanggung masyarakat sekitar. Akibatnya, produsen cenderung memproduksi lebih banyak dari tingkat optimal sosial karena mereka tidak menanggung seluruh biaya. Sebaliknya, eksternalitas positif terjadi ketika kegiatan seseorang memberikan manfaat kepada pihak lain tanpa kompensasi—seperti imunisasi yang melindungi orang yang tidak divaksin. Akibatnya, barang dengan eksternalitas positif cenderung diproduksi lebih sedikit dari yang diinginkan masyarakat. Pajak Pigouvian (untuk eksternalitas negatif) atau subsidi (untuk eksternalitas positif) bertujuan menginternalisasi biaya/manfaat eksternal agar keputusan pasar mencerminkan biaya sosial yang sebenarnya.

15. Mengapa pabrik yang mencemari sungai cenderung memproduksi melebihi tingkat yang efisien secara sosial?

16 / 30

Teks 4 — Eksternalitas Positif, Negatif, dan Pajak Pigouvian

Kegagalan pasar (market failure) terjadi ketika mekanisme harga gagal mengalokasikan sumber daya secara efisien. Salah satu penyebab utamanya adalah eksternalitas—dampak dari kegiatan ekonomi yang dirasakan pihak ketiga yang tidak terlibat dalam transaksi. Eksternalitas negatif terjadi ketika kegiatan produksi menimbulkan biaya sosial yang tidak ditanggung pelaku ekonomi itu sendiri—misalnya polusi pabrik yang ditanggung masyarakat sekitar. Akibatnya, produsen cenderung memproduksi lebih banyak dari tingkat optimal sosial karena mereka tidak menanggung seluruh biaya. Sebaliknya, eksternalitas positif terjadi ketika kegiatan seseorang memberikan manfaat kepada pihak lain tanpa kompensasi—seperti imunisasi yang melindungi orang yang tidak divaksin. Akibatnya, barang dengan eksternalitas positif cenderung diproduksi lebih sedikit dari yang diinginkan masyarakat. Pajak Pigouvian (untuk eksternalitas negatif) atau subsidi (untuk eksternalitas positif) bertujuan menginternalisasi biaya/manfaat eksternal agar keputusan pasar mencerminkan biaya sosial yang sebenarnya.

16. Pajak Pigouvian pada industri pencemar bertujuan untuk …

17 / 30

Teks 4 — Eksternalitas Positif, Negatif, dan Pajak Pigouvian

Kegagalan pasar (market failure) terjadi ketika mekanisme harga gagal mengalokasikan sumber daya secara efisien. Salah satu penyebab utamanya adalah eksternalitas—dampak dari kegiatan ekonomi yang dirasakan pihak ketiga yang tidak terlibat dalam transaksi. Eksternalitas negatif terjadi ketika kegiatan produksi menimbulkan biaya sosial yang tidak ditanggung pelaku ekonomi itu sendiri—misalnya polusi pabrik yang ditanggung masyarakat sekitar. Akibatnya, produsen cenderung memproduksi lebih banyak dari tingkat optimal sosial karena mereka tidak menanggung seluruh biaya. Sebaliknya, eksternalitas positif terjadi ketika kegiatan seseorang memberikan manfaat kepada pihak lain tanpa kompensasi—seperti imunisasi yang melindungi orang yang tidak divaksin. Akibatnya, barang dengan eksternalitas positif cenderung diproduksi lebih sedikit dari yang diinginkan masyarakat. Pajak Pigouvian (untuk eksternalitas negatif) atau subsidi (untuk eksternalitas positif) bertujuan menginternalisasi biaya/manfaat eksternal agar keputusan pasar mencerminkan biaya sosial yang sebenarnya.

17. Mengapa imunisasi diproduksi lebih sedikit dari yang diinginkan masyarakat, berdasarkan logika eksternalitas dalam teks?

18 / 30

Teks 4 — Eksternalitas Positif, Negatif, dan Pajak Pigouvian

Kegagalan pasar (market failure) terjadi ketika mekanisme harga gagal mengalokasikan sumber daya secara efisien. Salah satu penyebab utamanya adalah eksternalitas—dampak dari kegiatan ekonomi yang dirasakan pihak ketiga yang tidak terlibat dalam transaksi. Eksternalitas negatif terjadi ketika kegiatan produksi menimbulkan biaya sosial yang tidak ditanggung pelaku ekonomi itu sendiri—misalnya polusi pabrik yang ditanggung masyarakat sekitar. Akibatnya, produsen cenderung memproduksi lebih banyak dari tingkat optimal sosial karena mereka tidak menanggung seluruh biaya. Sebaliknya, eksternalitas positif terjadi ketika kegiatan seseorang memberikan manfaat kepada pihak lain tanpa kompensasi—seperti imunisasi yang melindungi orang yang tidak divaksin. Akibatnya, barang dengan eksternalitas positif cenderung diproduksi lebih sedikit dari yang diinginkan masyarakat. Pajak Pigouvian (untuk eksternalitas negatif) atau subsidi (untuk eksternalitas positif) bertujuan menginternalisasi biaya/manfaat eksternal agar keputusan pasar mencerminkan biaya sosial yang sebenarnya.

18. Perbedaan mendasar antara eksternalitas positif dan negatif menurut teks adalah …

19 / 30

Teks 5 — Parsons, Marx, dan Dahrendorf

Dua paradigma besar dalam sosiologi memberikan penjelasan berbeda tentang tatanan sosial. Struktural fungsionalisme, yang dipelopori Talcott Parsons, memandang masyarakat sebagai sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling bergantung dan bekerja sama untuk mempertahankan keseimbangan (equilibrium). Setiap institusi sosial—keluarga, agama, pendidikan, pemerintahan—menjalankan fungsi tertentu yang diperlukan bagi kelangsungan masyarakat. Sebaliknya, teori konflik yang berakar dari Karl Marx memandang masyarakat sebagai arena persaingan abadi antara kelompok yang menguasai sumber daya (kelas dominan) dan yang tidak (kelas subordinat). Ketidaksetaraan sosial bukan merupakan hasil fungsi yang diperlukan, melainkan produk dari eksploitasi. Ralf Dahrendorf mengembangkan teori konflik melampaui determinisme ekonomi Marx: bagi Dahrendorf, konflik lahir dari perbedaan otoritas (authority), bukan sekadar perbedaan kepemilikan alat produksi.

19. Menurut perspektif fungsionalisme Parsons, ketidaksetaraan sosial dalam masyarakat …

20 / 30

Teks 5 — Parsons, Marx, dan Dahrendorf

Dua paradigma besar dalam sosiologi memberikan penjelasan berbeda tentang tatanan sosial. Struktural fungsionalisme, yang dipelopori Talcott Parsons, memandang masyarakat sebagai sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling bergantung dan bekerja sama untuk mempertahankan keseimbangan (equilibrium). Setiap institusi sosial—keluarga, agama, pendidikan, pemerintahan—menjalankan fungsi tertentu yang diperlukan bagi kelangsungan masyarakat. Sebaliknya, teori konflik yang berakar dari Karl Marx memandang masyarakat sebagai arena persaingan abadi antara kelompok yang menguasai sumber daya (kelas dominan) dan yang tidak (kelas subordinat). Ketidaksetaraan sosial bukan merupakan hasil fungsi yang diperlukan, melainkan produk dari eksploitasi. Ralf Dahrendorf mengembangkan teori konflik melampaui determinisme ekonomi Marx: bagi Dahrendorf, konflik lahir dari perbedaan otoritas (authority), bukan sekadar perbedaan kepemilikan alat produksi.

20. Kontribusi Dahrendorf dalam mengembangkan teori konflik melampaui Marx terletak pada …

21 / 30

Teks 5 — Parsons, Marx, dan Dahrendorf

Dua paradigma besar dalam sosiologi memberikan penjelasan berbeda tentang tatanan sosial. Struktural fungsionalisme, yang dipelopori Talcott Parsons, memandang masyarakat sebagai sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling bergantung dan bekerja sama untuk mempertahankan keseimbangan (equilibrium). Setiap institusi sosial—keluarga, agama, pendidikan, pemerintahan—menjalankan fungsi tertentu yang diperlukan bagi kelangsungan masyarakat. Sebaliknya, teori konflik yang berakar dari Karl Marx memandang masyarakat sebagai arena persaingan abadi antara kelompok yang menguasai sumber daya (kelas dominan) dan yang tidak (kelas subordinat). Ketidaksetaraan sosial bukan merupakan hasil fungsi yang diperlukan, melainkan produk dari eksploitasi. Ralf Dahrendorf mengembangkan teori konflik melampaui determinisme ekonomi Marx: bagi Dahrendorf, konflik lahir dari perbedaan otoritas (authority), bukan sekadar perbedaan kepemilikan alat produksi.

21. Jika lembaga pendidikan dilihat dari perspektif fungsionalisme, maka fungsi utamanya dalam masyarakat adalah …

22 / 30

Teks 5 — Parsons, Marx, dan Dahrendorf

Dua paradigma besar dalam sosiologi memberikan penjelasan berbeda tentang tatanan sosial. Struktural fungsionalisme, yang dipelopori Talcott Parsons, memandang masyarakat sebagai sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling bergantung dan bekerja sama untuk mempertahankan keseimbangan (equilibrium). Setiap institusi sosial—keluarga, agama, pendidikan, pemerintahan—menjalankan fungsi tertentu yang diperlukan bagi kelangsungan masyarakat. Sebaliknya, teori konflik yang berakar dari Karl Marx memandang masyarakat sebagai arena persaingan abadi antara kelompok yang menguasai sumber daya (kelas dominan) dan yang tidak (kelas subordinat). Ketidaksetaraan sosial bukan merupakan hasil fungsi yang diperlukan, melainkan produk dari eksploitasi. Ralf Dahrendorf mengembangkan teori konflik melampaui determinisme ekonomi Marx: bagi Dahrendorf, konflik lahir dari perbedaan otoritas (authority), bukan sekadar perbedaan kepemilikan alat produksi.

22. Pandangan bahwa masyarakat adalah ‘arena persaingan abadi antara kelompok yang menguasai dan yang tidak’ paling mencerminkan perspektif …

23 / 30

Teks 6 — Batas Lempeng, Subduksi, dan Pemekaran Dasar Samudra

Teori tektonik lempeng menjelaskan bahwa kerak bumi terdiri dari beberapa lempeng litosfer yang bergerak di atas lapisan astenosfer yang bersifat plastis. Terdapat tiga jenis batas lempeng: batas konvergen (lempeng saling mendekati), batas divergen (lempeng saling menjauh), dan batas transform (lempeng saling bergeser horizontal). Pada batas konvergen antara lempeng samudra dan lempeng benua, lempeng samudra yang lebih padat akan menunjam ke bawah lempeng benua—proses ini disebut subduksi. Subduksi menghasilkan palung laut dalam, aktivitas vulkanik, dan gempa bumi. Rangkaian gunung berapi aktif yang mengelilingi Samudra Pasifik—disebut Cincin Api (Ring of Fire)—terbentuk akibat subduksi di sepanjang batas lempeng tersebut. Pada batas divergen di dasar samudra, magma naik mengisi celah yang terbentuk, menciptakan punggung tengah samudra (mid-ocean ridge) dan kerak samudra baru—proses ini disebut pemekaran dasar samudra (seafloor spreading).

23. Indonesia sering mengalami gempa bumi dan memiliki banyak gunung berapi aktif. Berdasarkan teks, hal ini paling tepat dijelaskan oleh …

24 / 30

Teks 6 — Batas Lempeng, Subduksi, dan Pemekaran Dasar Samudra

Teori tektonik lempeng menjelaskan bahwa kerak bumi terdiri dari beberapa lempeng litosfer yang bergerak di atas lapisan astenosfer yang bersifat plastis. Terdapat tiga jenis batas lempeng: batas konvergen (lempeng saling mendekati), batas divergen (lempeng saling menjauh), dan batas transform (lempeng saling bergeser horizontal). Pada batas konvergen antara lempeng samudra dan lempeng benua, lempeng samudra yang lebih padat akan menunjam ke bawah lempeng benua—proses ini disebut subduksi. Subduksi menghasilkan palung laut dalam, aktivitas vulkanik, dan gempa bumi. Rangkaian gunung berapi aktif yang mengelilingi Samudra Pasifik—disebut Cincin Api (Ring of Fire)—terbentuk akibat subduksi di sepanjang batas lempeng tersebut. Pada batas divergen di dasar samudra, magma naik mengisi celah yang terbentuk, menciptakan punggung tengah samudra (mid-ocean ridge) dan kerak samudra baru—proses ini disebut pemekaran dasar samudra (seafloor spreading).

24. Punggung tengah samudra (mid-ocean ridge) terbentuk di …

25 / 30

Teks 6 — Batas Lempeng, Subduksi, dan Pemekaran Dasar Samudra

Teori tektonik lempeng menjelaskan bahwa kerak bumi terdiri dari beberapa lempeng litosfer yang bergerak di atas lapisan astenosfer yang bersifat plastis. Terdapat tiga jenis batas lempeng: batas konvergen (lempeng saling mendekati), batas divergen (lempeng saling menjauh), dan batas transform (lempeng saling bergeser horizontal). Pada batas konvergen antara lempeng samudra dan lempeng benua, lempeng samudra yang lebih padat akan menunjam ke bawah lempeng benua—proses ini disebut subduksi. Subduksi menghasilkan palung laut dalam, aktivitas vulkanik, dan gempa bumi. Rangkaian gunung berapi aktif yang mengelilingi Samudra Pasifik—disebut Cincin Api (Ring of Fire)—terbentuk akibat subduksi di sepanjang batas lempeng tersebut. Pada batas divergen di dasar samudra, magma naik mengisi celah yang terbentuk, menciptakan punggung tengah samudra (mid-ocean ridge) dan kerak samudra baru—proses ini disebut pemekaran dasar samudra (seafloor spreading).

25. Mengapa pada batas konvergen, lempeng samudra selalu yang menunjam ke bawah lempeng benua?

26 / 30

Teks 6 — Batas Lempeng, Subduksi, dan Pemekaran Dasar Samudra

Teori tektonik lempeng menjelaskan bahwa kerak bumi terdiri dari beberapa lempeng litosfer yang bergerak di atas lapisan astenosfer yang bersifat plastis. Terdapat tiga jenis batas lempeng: batas konvergen (lempeng saling mendekati), batas divergen (lempeng saling menjauh), dan batas transform (lempeng saling bergeser horizontal). Pada batas konvergen antara lempeng samudra dan lempeng benua, lempeng samudra yang lebih padat akan menunjam ke bawah lempeng benua—proses ini disebut subduksi. Subduksi menghasilkan palung laut dalam, aktivitas vulkanik, dan gempa bumi. Rangkaian gunung berapi aktif yang mengelilingi Samudra Pasifik—disebut Cincin Api (Ring of Fire)—terbentuk akibat subduksi di sepanjang batas lempeng tersebut. Pada batas divergen di dasar samudra, magma naik mengisi celah yang terbentuk, menciptakan punggung tengah samudra (mid-ocean ridge) dan kerak samudra baru—proses ini disebut pemekaran dasar samudra (seafloor spreading).

26. Proses pemekaran dasar samudra secara langsung mengakibatkan …

27 / 30

Teks 7 — Perang Proksi, SEATO, dan Doktrin Domino

Perang Dingin (1947–1991) adalah persaingan ideologi, politik, dan militer antara Amerika Serikat (blok Barat, liberal-kapitalis) dan Uni Soviet (blok Timur, komunis) yang tidak pernah meletus menjadi konflik bersenjata langsung antara keduanya. Ketegangan ini termanifestasi dalam perang proksi—konflik bersenjata di negara ketiga yang didukung oleh salah satu blok. Asia Tenggara menjadi salah satu medan utama Perang Dingin: Perang Vietnam (1955–1975) berakhir dengan kemenangan komunis Vietnam Utara, mendorong AS membentuk SEATO (Southeast Asia Treaty Organization) sebagai aliansi pertahanan regional anti-komunis. Doktrin Domino yang dikemukakan Presiden Eisenhower menyatakan bahwa jatuhnya satu negara ke komunis akan memicu jatuhnya negara-negara tetangga seperti efek domino. Namun, meski Vietnam, Laos, dan Kamboja jatuh ke komunis pada 1975, negara-negara ASEAN lainnya tidak ikut jatuh—sebuah fakta yang mempertanyakan validitas Doktrin Domino.

27. Mengapa Perang Dingin disebut ‘perang’ meskipun AS dan Uni Soviet tidak pernah bertempur secara langsung?

28 / 30

Teks 7 — Perang Proksi, SEATO, dan Doktrin Domino

Perang Dingin (1947–1991) adalah persaingan ideologi, politik, dan militer antara Amerika Serikat (blok Barat, liberal-kapitalis) dan Uni Soviet (blok Timur, komunis) yang tidak pernah meletus menjadi konflik bersenjata langsung antara keduanya. Ketegangan ini termanifestasi dalam perang proksi—konflik bersenjata di negara ketiga yang didukung oleh salah satu blok. Asia Tenggara menjadi salah satu medan utama Perang Dingin: Perang Vietnam (1955–1975) berakhir dengan kemenangan komunis Vietnam Utara, mendorong AS membentuk SEATO (Southeast Asia Treaty Organization) sebagai aliansi pertahanan regional anti-komunis. Doktrin Domino yang dikemukakan Presiden Eisenhower menyatakan bahwa jatuhnya satu negara ke komunis akan memicu jatuhnya negara-negara tetangga seperti efek domino. Namun, meski Vietnam, Laos, dan Kamboja jatuh ke komunis pada 1975, negara-negara ASEAN lainnya tidak ikut jatuh—sebuah fakta yang mempertanyakan validitas Doktrin Domino.

28. SEATO dibentuk sebagai respons langsung terhadap …

29 / 30

Teks 7 — Perang Proksi, SEATO, dan Doktrin Domino

Perang Dingin (1947–1991) adalah persaingan ideologi, politik, dan militer antara Amerika Serikat (blok Barat, liberal-kapitalis) dan Uni Soviet (blok Timur, komunis) yang tidak pernah meletus menjadi konflik bersenjata langsung antara keduanya. Ketegangan ini termanifestasi dalam perang proksi—konflik bersenjata di negara ketiga yang didukung oleh salah satu blok. Asia Tenggara menjadi salah satu medan utama Perang Dingin: Perang Vietnam (1955–1975) berakhir dengan kemenangan komunis Vietnam Utara, mendorong AS membentuk SEATO (Southeast Asia Treaty Organization) sebagai aliansi pertahanan regional anti-komunis. Doktrin Domino yang dikemukakan Presiden Eisenhower menyatakan bahwa jatuhnya satu negara ke komunis akan memicu jatuhnya negara-negara tetangga seperti efek domino. Namun, meski Vietnam, Laos, dan Kamboja jatuh ke komunis pada 1975, negara-negara ASEAN lainnya tidak ikut jatuh—sebuah fakta yang mempertanyakan validitas Doktrin Domino.

29. Fakta bahwa negara-negara ASEAN tidak jatuh ke komunis meski Vietnam, Laos, dan Kamboja jatuh pada 1975 mengimplikasikan …

30 / 30

Teks 7 — Perang Proksi, SEATO, dan Doktrin Domino

Perang Dingin (1947–1991) adalah persaingan ideologi, politik, dan militer antara Amerika Serikat (blok Barat, liberal-kapitalis) dan Uni Soviet (blok Timur, komunis) yang tidak pernah meletus menjadi konflik bersenjata langsung antara keduanya. Ketegangan ini termanifestasi dalam perang proksi—konflik bersenjata di negara ketiga yang didukung oleh salah satu blok. Asia Tenggara menjadi salah satu medan utama Perang Dingin: Perang Vietnam (1955–1975) berakhir dengan kemenangan komunis Vietnam Utara, mendorong AS membentuk SEATO (Southeast Asia Treaty Organization) sebagai aliansi pertahanan regional anti-komunis. Doktrin Domino yang dikemukakan Presiden Eisenhower menyatakan bahwa jatuhnya satu negara ke komunis akan memicu jatuhnya negara-negara tetangga seperti efek domino. Namun, meski Vietnam, Laos, dan Kamboja jatuh ke komunis pada 1975, negara-negara ASEAN lainnya tidak ikut jatuh—sebuah fakta yang mempertanyakan validitas Doktrin Domino.

30. Konsep ‘perang proksi’ dalam Perang Dingin paling tepat diilustrasikan oleh …

Your score is

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *